Senin, 24 November 2014

SWAMEDIKASI KONTRASEPSI PIL KB



KONTRASEPSI


Definisi
Istilah kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra berarti melawan atau mencegah, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dengan sperma yang mengakibatkan kehamilan.Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya pertemuan antara sel telur dengan sperma.

Kontrasepsi oral atau disebut juga oral contraceptives (Ocs) atau juga dikenal dengan pil kontrasepsi merupakan metode kontrasepsi yang sangat populer diantara kaum wanita dewasa. Mekanisme aksi utamanya adalah menghambat terjadinya proses ovulasi. Dengan kata lain, OCs membuat endometrium tidak menerima penempelan ovum dan juga membuat mukus pada serviks menjadi tebal sehingga susah dilewati sperma. Selain pil KB, sebenarnya ada metode kontrasepsi yang lain. 


Prinsip Kerja Kontrasepsi
            Prinsip kerja kontrasepsi adalah meniadakan pertemuan sel telur dan sel sperma. Ada tiga cara untuk mencapai tujuan ini, baik yang bekerja sendiri maupun bersamaan. Pertama adalah menekan keluarnya sel telur (ovulasi), kedua menahan masuknya sperma kedalam saluran kelamin wanita sampai mencapai ovum dan ketiga adalah menghalangi nidasi.Contoh pertama adalah kontrasepsi hormonal steroid, baik pil, suntikan maupun implant.Contoh kedua terdiri atas kondom, mangkok vagina, spermisida, dan ligasi tuba dan vas deferens. Khusus diterapkan pada laki-laki adalah sanggama terputus dan vasektomi, dimana pada kedua cara tersebut, sperma tersebut tidak pernah mencapai saluran kelamin wanita. Contoh ketiga adalah IUD atau AKDR.
            Cara kontrasepsi tersebut mempunyai efektifitas yang berbeda-beda dalam memberikan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan. Namun perlu diingat adanya 3 azas kontrsasepsi, yaitu:

  1. Cara apapun yang dipakai lebih baik daripada tidak memakai sama sekali
  2. Cara terbaik hasilnya (efektifitas) adalah cara yang digunakan oleh pasangan dengan terus-menerus.
  3. Penerimaan pasangan terhadap suatu cara adalah unsur yang penting untuk berhasilnya suatu cara kontrasepsi.

Tujuan Program KB


  1. Tujuan demografi yaitu untuk mencegah terjadinya ledakan penduduk dengan menekan laju pertumbuhan penduduk (LPP) dan hal ini tentunya akan diikuti dengan menurunkan angka kelahiran.
  2.  Mengatur kehamilan dengan menunda perkawinan, menunda kehamilan anak pertama dan menjarangkan kehamilan setelah kelahiran anak pertama serta menghentikan kehamilan bila dirasakan anak telah cukup.
  3. Mengobati kemandulan atau infertilitas bagi pasangan yang telah menikah lebih dari satu tahun tetapi belum juga mempunyai keturunan, hal ini memungkinkan untuk tercapainya keluarga bahagia.
  4. Married Conselling atau nasehat perkawinan bagi remaja atau pasangan yang akan menikah dengan harapan akan mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang cukup tinggi dalam membentuk keluarga yang bahagia dan berkualitas.
  5. Tujuan akhir KB adalah tercapainya NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera) dan membentuk keluarga berkualitas, keluarga berkualitas artinya suatu keluarga yang harmonis, sehat, tercukupi sandang, pangan, papan, pendidikan dan produktif dari segi ekonomi.
Pil KB
Pil KB adalah suatu cara kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk pil atau tablet di dalam strip yang berisi gabungan hormon estrogen dan progesterone atau yang hanya terdiri dari hormon progesterone saja. Kebijaksanaan penggunaan pil diarahkan terhadap pemakaian pil dosis rendah, tetapi meskipun demikian pil dosis tinggi masih disediakan terutama untuk membina peserta KB lama yang menggunakan dosis tinggi.

1.      Jenis-jenis Pil KB
a.      Pil Kombinasi
Pil kombinasi dibuat dari dua hormon sintetis, yaitu semua pil mengandung hormon estrogen dan progesteron.Kandungan estrogen di dalam pil biasanya menghambat ovulasi dan menekan perkembangan telur yang dibuahi.Mungkin juga dapat menghambat implantasi. Progesteron dalam pil akan mengentalkan lendir serviks untuk mencegah masuknya sperma. Hormon ini juga mencegah konsepsi dengan cara memperlambat transportasi telur dan menghambat ovulasi. Pil kombinasi terdiri dari 3 jenis yaitu:

  1. Monofasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
  2. Bifasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dengan 2 dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
  3. Trifasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dengan tiga dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
Keuntungan Pil Kombinasi

  1.  Memiliki efektivitas yang tinggi (hampir menyerupai efektifitas tubektomi), bila digunakan setiap hari.
  2. Risiko terhadap kesehatan sangat kecil.
  3. Tidak mengganggu hubungan seksual.
  4. Siklus haid menjadi teratur, banyaknya darah haid berkurang (mencegah anemia), tidak terjadi nyeri haid.
  5. Dapat digunakan jangka panjang selama perempuan masih ingin menggunakannya untuk mencegah kehamilan.
  6.  Dapat digunakan sejak usia remaja hingga monopause.
  7. Mudah dihentikan setiap saat.
  8. Kesuburan segera kembali setelah penggunaan pil dihentikan.
  9. Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat.
  10. Membantu mencegah : kanker ovarium, kanker endometrium, kista ovarium, penyakit radang panggul, kelainan jinak pada payudara, kelainan jinak pada payudara, dimenore, akne.
Kerugian Pil Kombinasi

  1. Mahal dan membosankan karena harus menggunakannya setiap hari.
  2. Mual, terutama pada 3 bulan pertama
  3. Perdarahan bercak atau perdarahan sela, terutama 3 bulan pertama.
  4. Pusing
  5. Nyeri Payudara
  6. Berat badan naik sedikit, tetapi pada perempuan tertentu kenaikan berat badan justru memiliki dampak positif. 
  7. Berhenti haid (amenorea), jarang pada pil kombinasi
  8. Tidak boleh diberikan pada perempuan menyusui (mengurangi ASI)
  9. Pada sebagian kecil perempuan dapat menimbulkan depresi, dan perubahan suasana hati, sehingga keinginan untuk melakukan hubungan seks berkurang.
  10. Dapat meningkatkan tekanan darah dan retensi cairan, sehingga resiko struk, dan gangguan pembekuan darah pada vena dalam sedikit meningkat. Pada perempuan usia> 35 tahun dan merokok perlu hati-hati.
  11. Tidak mencegah IMS (Infeksi Menular Seksual), HBV, HIV/AIDS.
Efek Samping Kontrasepsi Pil Kombinasi
Penjelasan tentang efek samping pil kombinasi kepada pasien seperti halnya apa yang harus dilakukan jika terjadi masalah, akan meningkatkan pemakaian yang aman dan efektif. Khususnya pasien harus mengetahui bahwa dalam 3 siklus pertama ada kemungkinan tejadi efek samping seperti di bawah ini: Mual; rasa tidak enak dipayudara; pendarahan antara dua haid atau breakthrough bleeding; pusing; sakit kepala; penamabahan berat badan; jerawat.

Yang boleh Menggunakan Kontrasepsi Pil Kombinasi
Pada prinsipnya hampir semua Ibu boleh menggunakan pil kombinasi, seperti :

  1. Usia reproduksi
  2. Telah memiliki anak ataupun yang belum memiliki anak
  3. Gemuk atau kurus
  4. Menginginkan metode kontrasepsi dengan efektivitas tinggi 
  5. Setelah melahirkan dan tidak menyusui.
  6. Setelah melahirkan 6 bulan yang tidak memberikan ASI eksklusif, sedangkan semua cara kontrasepsi yang dianjurkan tidak cocok bagi Ibu tersebut
  7. Pasca keguguran
  8. Anemia karena haid berlebihan
  9. Nyeri haid hebat.
  10. Siklus haid tidak teratur
  11. Kelainan payudara jinak
  12. Kencing manis tanpa komplikasi pada ginjal, pembuluh darah, mata, dan saraf.
  13. Penyakit tiroid, penyakit radang panggul, endometriosis, atau tumor ovarium jinak.
  14. Menderita tuberkulosis (kecuali yang sedang menggunakan rifampisin)
  15. Varises vena.
Yang Tidak Boleh Menggunakan Kontrasepsi Pil Kombinasi
Hamil atau dicurigai hamil; menyusui eksklusif; perdarahan pervaginaan yang belum diketahui penyebabnya; penyakit hati akut (hepatitis); perokok dengan usia >35 tahun; riwayat penyakit jantung, stroke, atau tekanan darah > 180/110 mmhg; riwayat gangguan faktor pembekuan darah atau kencing manis > 20 tahun; kanker payudara atau dicurigai kanker payudara; migrain dan gejala neurologik fokal (epilepsi/riwayat epilepsi); tidak dapat menggunakan pil secara teratur setiap hari.
Waktu Penggunaan Kontrasepsi Pil Kombinasi

  1. Setiap saat selagi haid, untuk meyakinkan kalau perempuan tersebut tidak hamil
  2.  Hari pertama sampai hari ke 7 siklus haid
  3. Boleh menggunakan pada hari ke 8, tetapi perlu menggunakan metode kontrasepsi yang lain (kondom) mulai hari ke 8 sampai hari ke 14 atau tidak melakukan hubungan seksual sampai anda telah menghabiskan paket pil tersebut
  4. Setelah melahirkan : Setelah 6 bulan pemberian ASI ekslusif; setelah 3 bulan dan tidak menyusui; pasca keguguran (setelah atau dalam waktu 7 hari).
  5. Bila berhenti menggunakan kontrasepsi injeksi, dan ingin menggantikan dengan pil kombinasi, pil dapat segera diberikan tanpa perlu menunggu haid
Instruksi Penggunaan Kontrasepsi Pil Kombinasi

  1. Sebaiknya pil diminum setiap hari,lebih baik pada saat yang sama setiap hari.
  2. Pil yang  pertama dimulai pada hari pertama sampai hari ke 7 siklus haid.
  3. Sangat di anjurkan penggunaannya pada hari pertama haid.
  4. Pada paket 28 pil,dianjurkan mulai  minum pil plasebo sesuai  dengan hari yang ada pada pada paket.
  5. Beberapa paket pil mempunyai 28 pil. Bila paket 28 pil habis,sebaiknya anda mulai minum pil dari paket yang baru. Bila paket 21 habis,sebaiknya tunggu 1 minggu baru kemudian mulai minum pil dari paket yang baru.
  6. Bila muntah dalam waktu 2 jam setelah menggunakan pil,ambillah pil yang  lain.
  7. Bila terjadi muntah hebat atau diare lebih dari 24 jam,maka bila keadaan memungkinkan dan tidak memperburuk keadaan, pil  dapat di teruskan.
  8. Bila muntah dan diara berlangsung sampai 2 hari atau lebih,cara penggunaan pil mengikuti cara menggunakan pil lupa.
  9. Bila lupa minum 1 pil(hari 1-21),segera minum pil setelah ingat. Boleh minum 2 pil pada hari yang sama.tidak perlu menggunakan metode kontrasepsi yang lain.bila lupa 2 pil atau lebih (hari 1-21),sebaiknya minum 2 pil setiap hari sampai sesuai jadwal yang diterapkan, .juga sebaiknya, gunakan metode kontrasepsi yang lain atau tidak melakukan hubungan seksual sampai telah menghabiskan paket pil tersebut.
  10. Bila tidak haid,perlu segera  dilakukan tes kehamilan.

b.      Pil Mini
Mini pil (kadang-kadang disebut juga pil masa menyusui) mengandung agen progestasional dalam dosis yang kecil, dan harus dikonsumsi setiap hari secara berkesinambungan.Di seluruh dunia, Mini Pil tidak mendapatkan penerimaan yang luas, baik dari pihak wanita maupun dari petugas medis KB.Mini Pil bukan menjadi pengganti dari Pil Oral Kombinasi, tetapi hanya sebagai suplemen/tambahan yang digunakan wanita yang ingin menggunakan kontrasepsi oral tetapi sedang menyusui atau untuk wanita yang harus menghindari estrogen oleh sebab apapun.
Efektivitas mini pil sangat efektif pada penggunaan bila tidak terlupa atau jangan sampai terjadi gangguan gastrointestinal (muntah, diare), karena akibatnya kemungkinan terjadi kehamilan sangat besar.Penggunaan obat-obat mukolitik asetilsistein bersamaan dengan mini pil perlu dihindari karena mukolitik jenis ini dapat meningkatkan penetrasi sperma sehingga kemampuan kontraseptif dari mini pil dapat terganggu.
Keuntungan Pil Mini

  1.  Sangat efektif bila digunakan secara benar; tidak mengganggu hubungan seksual; tidak mempengaruhi asi; kesuburan cepat kembali; nyaman dan mudah digunakan; sedikit efek samping; dapat dihentikan setiap saat; tidak mengandung estrogen.
  2. Keuntungan Pil Mini tidak hanya digunakan untuk kontrasepsi saja, tetapi dapat juga digunakan untuk wanita usia subur dengan keuntungan : Mengurangi nyeri haid; mengurangi jumlah darah haid; menurunkan tingkat anemia; mencegah kanker endometrium; melindungi dari penyakit radang panggul; tidak meningkatkan pembekuan darah; dapat diberikan pada penderita endometriosis; kurang menyebabkan peningkatan tekanan darah, nyeri kepala, dan depresi; dapat mengurangi keluhan premenstrual sindrom (sakit kepala, perut kembung, nyeri payudara, nyeri pada betis, lekas marah); sedikit sekali mengganggu metabolisme karbohidrat sehingga relatif aman diberikan kepada perempuan pengidap kencing manis yang belum mengalami komplikasi.
Kerugian Pil Mini

  1. Hampir 30 – 60 % mengalami gangguan haid (perdarahan sela, spotting, amenore)
  2. Peningkatan berat badan
  3. Harus digunakan setiap hari dan pada waktu yang sama
  4. Bila lupa satu pil saja, kegagalan menjadi lebih besar
  5. Payudara menjadi tegang, mual, pusing, dermatis atau jerawat
  6. Risiko kehamilan ektopik cukup tinggi (4 dari 100 kehamilan), tetapi risiko ini lebih rendah jika dibandingkan dengan perempuan yang tidak menggunakan mini pil.

Efek Samping Kontrasepsi Pil Mini

  1. Efek sampingan utama dari kontrasepsi progestin adalah gangguan siklus haid berupa perdarahan tidak teratur, perdarahan bercak, dan amenorea. Perdarahan banyak dan lama jarang sekali terjadi. Sebagaian besar penghentian pemakaian kontrasepsi progestin disebabkan gangguan pola perdarahan. 
  2. Dalam menghadapi keluhan perdarahan pada pemakai kontrasepsi progestin pertama-tama harus disingkirkan perdarahan yang berhubungan dengan infeksi, kelainan faktor pembekuan, dan keganasan. Sampai saat ini patofisiologi terjadinya perdarahan pada akseptor kontrasepsi progestin masih belum banyak diketahui. Oleh karena itu pengobatannya masih bermacam-macam. Terdapat beberapa cara pengobatan yang dipakai menghentikan perdarahan pada akseptor kontrasepsi progestin, antara lain : Konseling; pemeriksaan fisik, ginekologik, dan laboratorium;
  3. Pemberian progestin; pemberian estrogen; pemberian vitamin, ferum, atau placebo; kuratase.
Yang Boleh Menggunakan Kontrasepsi Pil Mini
Usia reproduksi; telah memiliki anak, atau yang belum memiliki anak; menginginkan suatu metode kontrasepsi yang sangat efektif selama periode menyusui; pasca persalinan dan tidak menyusui; pasca keguguran; perokok segala usia; mempunyai tekanan darah tinggi (selama < 180/110 mmhg) atau dengan masalah pembekuan darah.

Yang Tidak Boleh Menggunakan Kontrasepsi Pil Mini
Hamil atau diduga hamil; perdarahan pervaginaan yang belum jelas penyebabnya; tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid; menggunakan obat tuberkulosis (rifampisin), atau obat untuk epilepsi (fenitoin dan barbiturat); kanker payudara atau riwayat kanker payudara; sering lupa menggunakan pil; miom uterus. progestin memicu pertumbuhan miom uterus; riwayat stroke. progestin menyebabkan spasme pembuluh darah.

Waktu Penggunaan Kontrasepsi Pil Mini
  1. Mulai hari pertama sampai hari ke 5. Tidak diperlukan pencegahan dengan kontrasepsi lain.
  2. Dapat digunakan setiap saat, asal saja tidak terjadi kehamilan. Bila menggunakannya setelah hari ke 5 siklus haid, jangan melakukan hubungan seksual selama 2 hari atau menggunakan metode kontrasepsi lain untuk 2 hari saja.
  3. Bila pasien tidak haid (amenorea), mini pil dapat digunakan setiap saat, asal saja diyakini tidak hamil. 
  4. Bila menyusui antara 6 minggu dan 6 bulan pasca persalinan dan tidak haid, mini pil dapat dimulai setiap saat. Bila menyusui penuh, tidak memerlukan metode kontrasepsi tambahan.
  5. Bila lebih dari 6 minggu pasca persalinan dan pasien telah mendapat haid, mini pil dapat dimulai pada hari 1-5 siklus haid.
  6. Mini pil dapat diberikan segera pasca keguguran.
  7. Bila pasien sebelumnya menggunakan kontrasepsi hormonal lain dan ingin menggantinya dengan mini pil, mini pil dapat segera diberikan, bila saja kontrasepsi sebelumnya digunakan dengan benar atau Ibu tersebut sedang tidak hamil. Tidak perlu menunggu sampai datangnya haid berikutnya.
  8. Bila kontrasepsi yang sebelumnya adalah kontrasepsi suntikan, mini pil diberikan pada jadwal suntikan berikutnya. Tidak diperlukan penggunaan metode kontrasepsi yang lain.
  9. Bila kontrasepsi sebelumnya adalah kontrasepsi non hormonal dan ibu tersebut ingin menggantinya dengan mini pil, mini pil diberikan pada hari 1-5 siklus haid dan tidak memerlukan metode kontrasepsi lain.
  10. Bila kontrasepsi sebelumnya yang digunakan adalah AKDR (termasuk AKDR yang mengandung hormon), mini pil dapat diberikan pada hari 1-5 siklus haid.
Instruksi Penggunaan Kontrasepsi Pil Mini
  1. Minum  minipil setiap hari pada saat yang sama
  2. Minum pil yang pertama pada hari pertama haid
  3. Bila muntah dalam waktu 2 jam setelah menggunakan pil,minumlah pil yang lain,atau gunakan metode kontrasepsi lain bila berniat melakukan hubungan seksual pada 48 jam berikutnya
  4. Bila menggunakan pil terlambat lebih dari 3 jam,minumlah pil tersebut begitu ingat. Gunakan metode pelindung selama 48 jam
  5. Bila lupa 1 atau 2 pil,minumlah segera pil yang terlupa tersebut sesegera pasien ingat dan gunakan metode pelindung lain yang cocok sampai akhir bulan.
  6. Walaupun belum haid,mulailah paket baru  sehari setelah paket terakhir  habis.
  7. Bila haidteratur setiap bulan dan kemudian kehilangan 1 siklus (tidak haid) ,atau bila merasa hamil, lakukan tes kehamilan.



Pustaka:
  • Anonim, 2010, Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan Alat Kontrasepsi Pil KB pada Akseptor Universitas Sumatera Utara,
  • repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20492/.../Chapter%20II.pdf, diakses pada tanggal 25 oktober 2014.
  • Kusumaningrum, R., 2009, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Jenis Kontrasepsi yang Digunakan Pada Pasangan Usia Subur, http://eprints.undip.ac.id/19194/1/Radita_Kusumaningrum.pdf, diakses pada tanggal 26oktober 2014
  • Putri, Rizky, 2013, Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Alat Kontrasepsi Pil KB, Poliiteknik Kesehatan KeMenKes Malang.

Senin, 21 April 2014

The Meaning of Mahsumi




SERA MASUMI


My name Mahsumi, it's origin is from Japanese word "Masumi" but the pronouncation is Mah soo mee or in Indonesian's tongue "Mahsumi".

m ah s oo m ee

m       ah  s   oo    m ee
  me      car       so        food         me       see
So my name is written as the it's pronounced. What i don't get is even after my name is clearly written some people still barely able to speak my name or maybe they just like to make fun of it. I can't see anything's wrong with my name. I kinda like it and it also has a wonderful meaning: "Increasing beauty and True purity". It's totally suit me me right?! (yeah...right!!!)


The meaning of the name Masumi is Beauty, True Purity
The origin of the name Masumi is Japanese

Read more at http://www.babynames.com/name/Masumi#2EFg0VZbSW4ppv6h.99

The meaning of the name Masumi is Beauty, True Purity
The origin of the name Masumi is Japanese

Read more at http://www.babynames.com/name/Masumi#2EFg0VZbSW4ppv6h.99

Senin, 10 Maret 2014

Tips N Tricks Lulus Ujian Masuk Apoteker

Halo, guys...
   Namaku Mahsumi dan sekarang sedang kuliah Profesi Apoteker di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Aku membuat postingan ini sebenarnya sebagai bagian dari nazar karena sudah berhasil lulus ujian masuk PSPA (Program Studi Profesi Apoteker) Sanata Dharma.
    Berikut ini aku akan berbagi beberapa hal penting yang bisa berpengaruh pada hasil ujian masuk teman-teman semua. Hal-hal berikut berdasarkan pengalaman dari diri pribadi juga teman-teman dan para senior yang telah mendahuluiku menjadi seorang Apoteker (nez...)

Well, let's get to it, Tips N Trick Lulus Ujian Masuk Apoteker:
1. Tentukan Universitas pilihan kalian
     Sebaiknya pilih Universitas dengan akreditasi A karena pasti sudah terjamin mutunya. Jangan keburu pesimis sebelum mencoba. Kalau kamu benar-benar tidak yakin dengan kemampuan kamu maka sebaiknya cadangkan beberapa Universitas lain sebagai alternatif. Pastikan bahwa jadwal ujiannya tidak bentrok.

2. Sesuaikan dengan budget kamu
Well, tidak lucu kan kalau kamu sudah lulus tapi terpaksa harus mengundurkan nilai karena alasan klise sperti biaya. Jika kamu punya modal lain selain uang, coba cari beasiswa atau part time job selama kuliah. (Aku juga PTJ tapi waktu S1, hehehe...)
Untuk wilayah Yogyakarta pada Tahun 2014 ini biaya untuk Universitas Swasta yang mengadakan PSPA bagi mahasiswa dari luar yaitu untuk Universitas Sanata Dharma 14 juta, UII 21,5 juta, dan UAD juga berkisar 20 juta (tapi saya kurang tahu pasti, lol) sedangkan UGM tidak menerima Mahasiswa PSPA dari luar karena kuotanya sudah terisi penuh untuk mahasiswa dari dalam.. Universitas Wahid Hasyim Semarang 12 juta sedangkan Universitas Pancasila Jakarta 28 Juta.
3. Siapkan semua persyaratan yang dibutuhkan
Hal-hal kecil seperti pas foto ukuran sesuai ketentuan, fotocopy ijazah dan transkrip nilai serta tetek bengeknya sampai Surat Keterangan Sehat dan Bebas Narkoba serta sertifikat TOEFL.

4. Lihat jenis-jenis ujian masuknya
Tidak semua Universitas memiliki metode yang sama dalam menyeleksi calon mahasiswa mereka. Contohnya di Universitas Setia Budi Solo menyajikan ujian kefarmasian dengan pelajaran seperti Teknologi Farmasi, Farmakoterapi, dsb. Beberapa Universitas mempunyai sesi wawancara dan Ujian Psikotest. Ada juga Universitas yang mensyaratkan ujian TOEFL harus diambil di Universitas tersebut sehingga kamu butuh TOEFL Preparation sebelumnya. Untuk Universitas Sanata Dharma, ujian masuknya berupa Ujian Psikotest dan Tes wawancara sedangkan persyaratan TOEFL dapat menggunakan sertifikat dari luar (Kebetulan aku ambilnya di ELC, hehehe...)

5. Belajar...Belajar...Belajar...
Belajarlah sesuai jenis UJian yang akan kamu ikut. Kalau Universitas tempat kamu mendaftar mengadakan ujian kefarmasian maka kamu harus mereview pelajaran-pelajaran S1 kamu tetapi kalau ujiannya Psikotest maka yang harus kamu pelajari yah materi psikotest. Belajar dengan sungguh-sungguh dan jangan malas-malasan. Belajar juga bagaimana sikap yang harus kamu tunjukkan ketika mengikuti tes wawancara nanti. So, persiapkan dirimu dengan sebaik-baiknya!

6. Berdoa
Jangan lupa berdoa sesuai agama dan keyakinan masing-masing. Aku pribadi sudah merasakan kemanjuran dari kekuatan doa loh, alhamdulillah. Jangan lupa juga minta didoakan sama orangtua juga yach...

7. Siap menerima hasil apapun dan pantang menyerah
Aku termasuk golongan orang yang beruntung karena langsung lulus pada kali pertama mencoba tetapi ada temanku yang harus mencoba 3 kali di 3 Universitas di Kota yang berbeda baru dia berhasil masuk ke sebuah Universitas Swasta di Jakarta. Akhirnya dia bisa mengambil hikmah dari semua itu. Kabar baiknya, dia terhindar dari tinggal di Kota abu Yogyakarta dan Solo yang saat itu tengah dilanda abu dari Gunung Kelud dan dia bisa tinggal di kota Metropolitan Jakarta, fuihhh...

8. All is Well!
Apapun yang terjadi itu sudah merupakan jalan hidup dan kita tidak bisa merubah masa lalu (kecuali dengan mesin waktu kali, hahaha) tetapi kita bisa membuat masa depan kita sendiri dan percayalah bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita.

Sekian dari aku, Good Luck, Ganbatte!!!
   

Selasa, 03 Juli 2012

Obat Antihipertensi


OBAT OBAT HIPERTENSI
Obat-obat Antihipertensi adalah obat-obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Sebelum membahas lebih jauh mengenai obat-obat Antihipertensi ini terlebih dahulu kita mengetahui mengenai penyakit hipertensi itu sendiri.
A.   Hipertensi
-       Latar Belakang
Dalam keadaan sehat, aktivitas fisik maupun emosi terkadang dapat mengubah tekanan darah. Dengan hipertensi dimaksudkan tekanan darah dalam keadaan istirahat melebihi normal dan ada variasi yang amat besar. Di bawah ini adalah gambar siklus jantung.

-       Klasifikasi
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg didefinisikan sebagai "normal". Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Umumnya batas normal pada orang dewasa 140 mmHg sistolik dan kurang dari 100 mmHg diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa minggu. Hipertensi ringan sampai sedang 160/190 dan 180/105 mmHg dan sampai hipertensi yang lebih berat atau ganas adalah di atas 180/105 mmHg.(Penggolongan Obat,Moh. Anief; hal.24) sedangkan Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa menurut JNC VII dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Kategori
Sistolik
Diastolik
Normal
< 120 mmHg
(dan) < 80 mmHg
Pre-hipertensi
120-139 mmHg
(atau) 80-89 mmHg
Stadium 1
140-159 mmHg
(atau) 90-99 mmHg
Stadium 2
>= 160 mmHg
(atau) >= 100 mmHg
Berdasarkan asosiasi hipertensi eropa 2003, diklasifikasikan hipertensi sebagai berikut:
Kategori
Sistolik (mmHg)
Diastolik (mmHg)
Optimal
< 120
<80
Normal
<130
<85
Hipertensi Ringan
140-159
90-99
Sedang
160-180
100-110
Berat
≥ 180
≥ 110 

-       Pengertian
Jadi secara garis besar dapat didefinisikan bahwa Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah satu faktor risiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung dan aneurisma arterial, dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis.
Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut.
Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis.
Dalam pasien dengan diabetes mellitus atau penyakit ginjal, penelitian telah menunjukkan bahwa tekanan darah di atas 130/80 mmHg harus dianggap sebagai faktor risiko dan sebaiknya diberikan perawatan.
-       Pengaturan tekanan darah
Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara:
1.    Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya
2.    Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena arteriosklerosis. Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi "vasokonstriksi", yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di dalam darah.
3.    Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat.
Sebaliknya, jika:
1.    Aktivitas memompa jantung berkurang
2.    Arteri mengalami pelebaran, atau
3.    Banyak cairan keluar dari sirkulasi
maka tekanan darah akan menurun atau menjadi lebih kecil.
Penyesuaian terhadap faktor-faktor tersebut dilaksanakan oleh perubahan di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis).
1.    Perubahan Fungsi Ginjal
Di ginjal terdapat suatu sistem yang mengatur tingginya tekanan darah yang disebut Sistem Renin Angiotensin Aldosteron (RAAS : Renin Angiotensin Aldosteron System). Bila tekanan darah di glomeruli menurun, sel ginjal membentuk renin dan dilepaskan. Dalam plasma, renin bergabung dengan zat protein menjadi Angiotensin I dan oleh enzim ACE (Angiotensin Converting Enzyme) diubah menjadi Angiotensin II yang aktif. Angiotensin II berefek vasokontriktif kuat dan menstimulisasi sekresi hormon aldosteron dan bersifat retensi garam dan air mengakibatkan tekanan darah naik dan volume darah meningkat.
Ginjal dapat dikatakan mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara:
a.    Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air, yang akan menyebabkan berkurangnya volume darah dan mengembalikan tekanan darah ke normal.
b.    Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali ke normal.
c.    Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormon angiotensin, yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron.
Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah; karena itu berbagai penyakit dan kelainan pda ginjal bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi, misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi.Peradangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah.
2.    Sistem saraf otonom
Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari sistem saraf otonom, yang untuk sementara waktu akan:
a.    meningkatkan tekanan darah selama respon fight-or-flight (reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari luar)
b.    meningkatkan kecepatan dan kekuatan denyut jantung; juga mempersempit sebagian besar arteriola, tetapi memperlebar arteriola di daerah tertentu (misalnya otot rangka, yang memerlukan pasokan darah yang lebih banyak)
c.    mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal, sehingga akan meningkatkan volume darah dalam tubuh
d.    melepaskan hormon epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin), yang merangsang jantung dan pembuluh darah.
-       Gejala
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal. Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut:
1.    sakit kepala
2.    kelelahan
3.    mual
4.    muntah
5.    sesak napas
6.    gelisah, serta
7.    pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal.
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera.
-       Penyebab Hipertensi
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis :
1.    Hipertensi primer atau esensial (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi).
Hipertensi primer didefinisikan sebagai hipertensi yang tidak disebabkan oleh adanya gangguan organ lain seperti ginjal dan jantung. Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah.Hipertensi ini dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan seperti faktor keturunan, pola hidup yang tidak seimbang, keramaian, stress, dan pekerjaan. Sikap yang dapat menyebabkan hipertensi seperti konsumsi tinggi lemak, garam,  aktivitas yang rendah, kebiasaan merokok,  konsumsi alkohol dan kafein. Sebagian besar hipertensi primer disebabkan oleh faktor stress.
2.    Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari adanya penyakit lain.atau dengan kata lain, penyebabnya diketahui. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB). Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin).
Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres, alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan. Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal.
-       Hipertensi dalam kehamilan
Hipertensi ditemukan pada ibu hamil baik pada penyakit sebelumnya (5-15% dari total ibu hamil) atau sebagai gangguan yang berhubungan dengan kehamilan, pre-eklamsia (Lyoyd, dalam Wylie). Hipertensi dijuluki sebagai the silent killer karena biasanya tidak menunjukkan gejala dan hanya terdiagnosis melalui skrinning atau ketika penyakit tersebut bermanifestasi pada komplikasi gangguan tertentu. Hipertensi sangat signifikan berkontribusi terhadap angka kesakitan dan kematian ibu dan janin sehingga perlu dilakukan skrinning awal dan pemeriksaan lanjutan selama kehamilan.

B.   PENGGOLONGAN OBAT-OBAT ANTIHIPERTENSI
-       Latar Belakang
Setelah dilakukan diagnosis yang didasarkan pada pengukuran berulang- ulang maka dapat dilakukan pengobatan hipertensi yang sesuai. Hal pertama yang harus diperhatikan yaitu mekanisme pengaturan darah di dalam tubuh.
BP = CO XBPR
 



Tekanan darah dipertahankan melalui pengaturan cardiac output dan peripheral vaskular resistance pada lokasi:
1.    Arteriol
2.    Postcapillary venules
3.    Jantung, dan
4.    Ginjal
Tekanan darah diatur dengan cara mengatur volume intravaskular. Barorefleks yang diperankan oleh saraf otonom yang bekerja sama dengan mekanisme humoral dan RAAS berfungsi untuk mengkoordinasi 4 lokasi pengaturan untuk mempertahankan tekanan darah.
BAROREFLEKS
            Semua obat antihipertensi bekerja pada satu atau lebih mekanisme pengaturan tekanan darah. Terdapat 4 kelompok antihipertensi yaitu:
1.    Diuretika
2.    Antiadrenergik
3.    Vasodilator
4.    Penghambat Angiotensin (ACE-Blockers)

Lokasi Kerja Obat Antihipertensi

1.    Diuretika
Khasiat antihipertensi diuretik adalah berawal dari efeknya meningkatkan ekskresi natrium, klorida, dan air, sehingga mengurangi volume plasma dan cairan ekstrasel. TD turun akibat berkurangnya curah jantung, sedangkan resistensi perifer tidak berubah pada awal terapi. Pada pemberian kronik, volume plasma kembali tetapi masih kira-kira 5% dibawah nilai sebelum pengobatan. Curah jantung kembali mendekati normal.TD tetap turun karena sekarang resistensi perifer menurun. Vasodilatasi perifer yang terjadi kemudian tampaknya bukan efek langsung tiazid tetapi karena adanya penyesuaian pembuluh darah perifer terhadap pengurangan volume plasma yang terus-menerus. Kemungkinan lain adalah berkurangnya volume cairan interstisial berakibat berkurangnya kekakuan dinding pembuluh darah dan bertambahnya daya lentur (compliance) vaskular.
a.    Diuretik tiazid
Menghambat reabsorpsi natrium dan klorida pada pars asendens ansa henle tebal, yang menyebabkan diuresis ringan. Suplemen kalium mungkin diperlukan karena efeknya yang boros kalium.
(HCT)
b.     Loop diuretic
Lebih poten
sial dibandingkan tiazid dan harus digunakan dengan hati-hati untuk menghindari dehidrasi. Obat-obat ini dapat mengakibatkan hipokalemia, sehingga kadar kalium harus dipantau ketat. (Furosemid/Lasix)
c.     Diuretik Hemat Kalium
Meningkatkan ekskresi natrium dan air sambil menahan kalium. Obat-obat ini dipasarkan dalam gabungan dengan diuretic boros kalium untuk memperkecil ketidakseimbangan kaliu
m. (Spirinolactone)
d.     Diuretik Osmotik
Menarik air ke urin, tanpa mengganggu sekresi atau absorpsi ion dalam ginjal.
(Manitol/Resectisol)
2.    Antiadrenergik
Agonis adrenergik meningkatkan tekanan darah dengan merangsang jantung (reseptor ß1) dan/atau membuat konstriksi pembuluh darah perifer (reseptor α1). Pada pasien hipertensi, efek adrenergik dapat ditekan dengan menghambat pelepasan agonis adrenergik atau melakukan antagonisasi reseptor adrenergik.
a.    Penghambat pelepasan adrenergik prasinaptik; dibagi menjadi antiadrenergik “sentral” dan “perifer”. Antiadrenergik sentral mencegah aliran keluar simpatis (adrenergic) dari otak dengan mengaktifkan reseptor α2 penghambat. Antiadrenergik perifer mencegah pelepasan norepinefrin dari terminal saraf perifer (misal yang berakhir di jantung). Obat-obat ini mengosongkan simpanan norepinefrin dalam terminal-terminal saraf.
b.    Blocker alfa dan beta bersaing dengan agonis endogen memperebutkan reseptor adrenergik. Penempatan reseptor α1 oleh antagonis menghambat vasokontriksi dan penempatan reseptor ß1 mencegah perangsangan adrenergik pada jantung.
3.    Vasodilator
Contoh vasodilator antara lain:
a.     Penghambat angiotensin converting enzyme (ACE)
Menekan sintesis angiotensin II, suatu vasokonstriktor poten. Selain itu, penghambat ACE dapat menginduksi pembentukan vasodilator dalam tubuh
.
b.    Blocker pintu masuk kalium
Mencegah influks kalsium ke dalam sel-sel otot dinding pembuluh darah. Otot polos membutuhkan influks kalsium ekstrasel untuk kontraksinya. Blockade influks kalsium mencegah kontraksi, yang menyebabkan vasodilatasi
.
c.    Vasodilator langsung
Merelaksasi sel-sel otot polos yang mengelilingi pembuluh darah dengan mekanisme yang belum jelas, tetapi mungkin melibatkan pembentukan nitrik oksida oleh endote vascular.

-       Berikut ini adalah obat-obat Antihipertensi :
1.    Obat Diuretik Tiazid
Nama obat
                     :Hidroklorotiazid
Mekanisme Kerja
          :menghambat reabsorpsi natrium dan klorida dalam pars asendens ansa henle tebal dan awal tubulus distal. Hilangnya                                                           K+, Na+, dan Cl- menyebabkan                                                        peningkatan pengeluaran urin 3x.                                                           Hilangnya natrium menurunkn GFR.
Indikasi                            :Obat awal yang ideal untuk hipertensi,                                                   edema kronik, hiperkalsuria idiopatik.                                                           Digunakan untuk menurunkan pengeluaran                                          urin pada diabetes inspidus (GFR rendah                                          menyebabkan peningkatan reabsorpsi                                                   dalam nefron
proksimal, hanya berefek                                                       pada diet rendah garam)
Efek tak diinginkan
      :Hipokalemia, hiponatremia, hiperglikemia,                                           hiperurisemia, hiperkalsemia, oliguria,                                                          anuria, kelemahan, penurunan aliran                                                          plasenta, alergi sulfonamide, gangguan                                                      saluran cerna.

2.     Obat Loop Diuretic
a.    Furosemid (Lasix)
Mekanisme Kerja     :menghambat reabsorpsi klorida dalam                                      pars asendens ansa henle tebal. K+                                          banyak hilang ke dalam urin.
Indikasi                      :Diuretik yang dipilih untuk pasien dengan                               GFR rendah dan kedaruratan hipertensi.                                  Juga edema, edema paru dan untuk                                        mengeluarkan banyak cairan. Kadangkala                              digunakan untuk menurunkan kadar                                           kalium serum.
Efek tak diinginkan :Hiponatremia, hipokalemia, dehidrasi,                                        hipotensi,hiperglikemia, hiperurisemia,                                        hipokalsemia, ototoksisitas, alergi                                        sulfonamide, hipomagnesemia, alkalosis                                  hipokloremik, hipovolemia.
b.    Asam Etakrinat (Ethacrynate)
Indikasi                       :per oral untuk edema, IV untuk edema                                                   paru.
Efek tak diinginkan              :Paling ototoksik, l
ebih banyak gangguan                                   saluran cerna, kecil kemungkinan                                                 menyebabkan alkalosis. Lain-lain seperti                                 Furosemid.
c.    Butmetanid (Bumex)
Indikasi                       :per oral untuk edema, IV untuk edema                                                   paru
Efek tak diinginkan              :serupa dengan furosemid. Ototoksisitas                                     belum pernah dilaporkan. Dosis besar                                         dapat menyebabkan mialgia berat.
3.     Obat Diuretik Hemat Kalium.
a.  Amilorid (midamor)
Mekanisme Kerja      :secara langsung meningkatkan ekskresi                                              Na+ menurunkan sekresi K+ dalam                                                          tubulus kontortus distal.
Indikasi                      :Digunakan bersama diuretik lain karena                                                efek hemat K+ mengurangi efek                                                    hipokalemik. Dapat mengoreksi alkalosis                                                metabolik.
Efek tak diinginkan    :Hiperkalemia, kekurangan natrium atau                                                air. Pasien dengan diabetes militus dapat                                                 mengalami intoleransi
glukosa.
b.   Spironolakton (aldactone)
Mekanisme Kerja
     :antagonis aldosteron (aldosteron                                                             menyebabkan retensi Na+). Juga memiliki                                             kerja serupa dengan amilorid.
Indikasi
                      :digunakan dengan tiazid untuk edema                                                              (pada gagal jantung kongestif), sirosis,                                                               dan sindrom nefrotik. Juga untuk                                                           mengobati atau mendiagnosis           hiperaldo-                                            steronisme.
Efek tak diinginkan
  :seperti amilorid. Juga menyebabkan                                                       ketidakseimbangan endokrin (jerawat, kulit                                            berminyak, hirsutisme, ginekomastia)
c.    Triamterin (Dyrenium)
Mekanisme Kerja      :secara langsung menghambat reabsorpsi                                             Na+ serta sekresi K+ dan H+ dalam                                                           tubulus koligentes.
Indikasi                       :digunakan untuk  hiperaldosteronisme.                                                 Lain-lain seperti Spironolakton.
Efek tak diinginkan  :dapat menyebabkan urin menjadi biru dan                                          menurunkan aliran darah ginjal. Lain-lain                                               seperti amilorid.
4.     Obat Diuretik Osmotik
a.    Manitol (mis. Resectisol)
Mekanisme kerja     :secara osmotic menghambat reabsorpsi                                    natrium dan air. Awalnya menaikkan                                               volume plasma dan tekanan darah.
Indikasi                       :gagal ginjal akut, glaucoma, sudut tertutup                              akut, edema otak, untuk menghilangkan                                  kelebihan dosis beberapa obat.
Efek tak diinginkan              :sakit kepala, mual, muntah, menggigil,                                                  pusing, polidipsia, letargi, kebingungan,                                    dan nyeri dada.
5.     Obat Anti adregernik sentral
a.     Klonidin (catapres)
Mekanisme kerja     :bekerja di otak sebagai agonis adrenergic                                
α2 yang menyebabkan penurunan aktifitas                                   system saraf simpatis (penurunan                                                   frekuensi jantung, curah jantung dan                                         tekanan darah). Mekanisme pastinya                                          belum diketahui.
Indikasi                      :hipertensi ringan sampai sedang
Efek tak diinginkan :ruam, mengantuk, mulut kering,konstipasi,                              sakit kepala, gangguan ejakulasi.                                              Hipertensi balik bila dihentikan mendadak.                             Untuk membatasi toksisitas, mulai dengan                              dosis rendah dan tingkatkan perlahan.

C.   SIFAT FISIKA DAN KIMIA OBAT ANTIHIPERTENSI
Walaupun fungsinya sama yaitu untuk menurunkan tekanan darah, tetapi setiap golongan obat antihipertensi memiliki sifat fisika dan kimia yang berbeda. Berdasarkan mekanisme kerja dari tiap-tiap obat antihipertensi di atas maka kita dapat menarik garis besar dari perbedaan mendasar keempatnya.
Di bawah ini saya hanya akan membahas mengenai salah satu obat antihipertensi golongan antiadrenergik yaitu klonidin
-       Sifat Kimia
Struktur Kimia
 Sumber: (Basic and Clinical Pharmacology. 10th edition. San Francisco: McGraw-Hill, 2006)


Klonidin merupakan α2 agonis yang biasanya digunakan dalam terapi antihipertensi. Klonidin memiliki efek terhadap kedua reseptor α (α2 dan α1) dengan perbandingan potensi 200:1. Dari tabel di bawah ini dapat dilihat beberapa efek obat alfa terhadap beberapa reseptor.

-       Sifat Fisika Klonidin
a.    Klonidin : B.m = 230
b.    pKa = 8,05
c.    Densitas pada t 25o C = 1,003
d.    t 37o C = 0,999
e.    sifat = lipofilik
f.     L.C.S : Densitas pada t 25o C = 1,004
g.    t 37o C = 1,001
-        Mekanisme Penurunan Tekanan Darah oleh Klonidin
Fungsi dari reseptor α dan β masih diteliti, namun kemungkinan erat kaitannya dalam pengaturan tekanan darah dan denyut jantung. Reseptor α2 presinaps di otak dan medulla spinalis juga terlibat dalam menghambat pelepasan norepinefrin presinaps. Reseptor α2 postsinaps terlibat dalam banyak hal, antara lain menghambat pengeluaran insulin, menghambat motilitas usus, menstimulasi pengeluaran hormon pertumbuhan, dan menghambat pengeluaran ADH.10 Mekanisme penurunan tekanan darah oleh klonidin secara tepat belum dapat diketahui. Tetapi klonidin telah dapat diketahui bekerja dengan menstimulasi reseptor α2 di medulla oblongata. Hal ini dibuktikan dengan injeksi dalam jumlah sedikit melalui arteri vertebralis atau langsung pada cisterna magna dapat menimbulkan efek penurunan tekanan darah.19 Klonidin menginhibisi pusat vasomotor simpatis dengan menstimulus reseptor α2 di medulla oblongata. Akibat mekanisme tersebut, aktivitas sistem saraf simpatis di perifer berkurang, tekanan darah sistolik dan diastolik menurun, dan terjadi bradikardi.







DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh, 1996, Penggolongan Obat berdasarkan khasiat dan penggunaan, UGM Press; Yogakarta
Ansel, Howard C, 2005, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press; Jakarta
http://cardiovascularvloe.blogspot.com/; diakses hari selasa tanggal 20 maret 2012
http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia_medisinal; diakses hari selasa tanggal 20 maret 2012
http://id.wikipedia.org/wiki/Tekanan_darah_tinggi; diakses hari selasa tanggal 20 maret 2012
http://www.docstoc.com/docs/7804134/DIURETIK; diakses hari selasa tanggal 20 maret 2012
http://www.eprints.ac.id/7519/Resta_Farits.pdf; diakses hari kamis tanggal 22 maret 2012


Referral Code Kredivo

 Kredivo adalah kartu kredit digital berupa aplikasi di smartphone yang memberikan kamu kemudahan untuk beli sekarang dan bayar nanti dalam...