Selasa, 03 Juli 2012

Obat Antihipertensi


OBAT OBAT HIPERTENSI
Obat-obat Antihipertensi adalah obat-obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Sebelum membahas lebih jauh mengenai obat-obat Antihipertensi ini terlebih dahulu kita mengetahui mengenai penyakit hipertensi itu sendiri.
A.   Hipertensi
-       Latar Belakang
Dalam keadaan sehat, aktivitas fisik maupun emosi terkadang dapat mengubah tekanan darah. Dengan hipertensi dimaksudkan tekanan darah dalam keadaan istirahat melebihi normal dan ada variasi yang amat besar. Di bawah ini adalah gambar siklus jantung.

-       Klasifikasi
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg didefinisikan sebagai "normal". Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Umumnya batas normal pada orang dewasa 140 mmHg sistolik dan kurang dari 100 mmHg diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa minggu. Hipertensi ringan sampai sedang 160/190 dan 180/105 mmHg dan sampai hipertensi yang lebih berat atau ganas adalah di atas 180/105 mmHg.(Penggolongan Obat,Moh. Anief; hal.24) sedangkan Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa menurut JNC VII dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Kategori
Sistolik
Diastolik
Normal
< 120 mmHg
(dan) < 80 mmHg
Pre-hipertensi
120-139 mmHg
(atau) 80-89 mmHg
Stadium 1
140-159 mmHg
(atau) 90-99 mmHg
Stadium 2
>= 160 mmHg
(atau) >= 100 mmHg
Berdasarkan asosiasi hipertensi eropa 2003, diklasifikasikan hipertensi sebagai berikut:
Kategori
Sistolik (mmHg)
Diastolik (mmHg)
Optimal
< 120
<80
Normal
<130
<85
Hipertensi Ringan
140-159
90-99
Sedang
160-180
100-110
Berat
≥ 180
≥ 110 

-       Pengertian
Jadi secara garis besar dapat didefinisikan bahwa Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah satu faktor risiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung dan aneurisma arterial, dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis.
Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut.
Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis.
Dalam pasien dengan diabetes mellitus atau penyakit ginjal, penelitian telah menunjukkan bahwa tekanan darah di atas 130/80 mmHg harus dianggap sebagai faktor risiko dan sebaiknya diberikan perawatan.
-       Pengaturan tekanan darah
Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara:
1.    Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya
2.    Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena arteriosklerosis. Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi "vasokonstriksi", yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di dalam darah.
3.    Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat.
Sebaliknya, jika:
1.    Aktivitas memompa jantung berkurang
2.    Arteri mengalami pelebaran, atau
3.    Banyak cairan keluar dari sirkulasi
maka tekanan darah akan menurun atau menjadi lebih kecil.
Penyesuaian terhadap faktor-faktor tersebut dilaksanakan oleh perubahan di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis).
1.    Perubahan Fungsi Ginjal
Di ginjal terdapat suatu sistem yang mengatur tingginya tekanan darah yang disebut Sistem Renin Angiotensin Aldosteron (RAAS : Renin Angiotensin Aldosteron System). Bila tekanan darah di glomeruli menurun, sel ginjal membentuk renin dan dilepaskan. Dalam plasma, renin bergabung dengan zat protein menjadi Angiotensin I dan oleh enzim ACE (Angiotensin Converting Enzyme) diubah menjadi Angiotensin II yang aktif. Angiotensin II berefek vasokontriktif kuat dan menstimulisasi sekresi hormon aldosteron dan bersifat retensi garam dan air mengakibatkan tekanan darah naik dan volume darah meningkat.
Ginjal dapat dikatakan mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara:
a.    Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air, yang akan menyebabkan berkurangnya volume darah dan mengembalikan tekanan darah ke normal.
b.    Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali ke normal.
c.    Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormon angiotensin, yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron.
Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah; karena itu berbagai penyakit dan kelainan pda ginjal bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi, misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi.Peradangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah.
2.    Sistem saraf otonom
Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari sistem saraf otonom, yang untuk sementara waktu akan:
a.    meningkatkan tekanan darah selama respon fight-or-flight (reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari luar)
b.    meningkatkan kecepatan dan kekuatan denyut jantung; juga mempersempit sebagian besar arteriola, tetapi memperlebar arteriola di daerah tertentu (misalnya otot rangka, yang memerlukan pasokan darah yang lebih banyak)
c.    mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal, sehingga akan meningkatkan volume darah dalam tubuh
d.    melepaskan hormon epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin), yang merangsang jantung dan pembuluh darah.
-       Gejala
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal. Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut:
1.    sakit kepala
2.    kelelahan
3.    mual
4.    muntah
5.    sesak napas
6.    gelisah, serta
7.    pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal.
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera.
-       Penyebab Hipertensi
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis :
1.    Hipertensi primer atau esensial (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi).
Hipertensi primer didefinisikan sebagai hipertensi yang tidak disebabkan oleh adanya gangguan organ lain seperti ginjal dan jantung. Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah.Hipertensi ini dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan seperti faktor keturunan, pola hidup yang tidak seimbang, keramaian, stress, dan pekerjaan. Sikap yang dapat menyebabkan hipertensi seperti konsumsi tinggi lemak, garam,  aktivitas yang rendah, kebiasaan merokok,  konsumsi alkohol dan kafein. Sebagian besar hipertensi primer disebabkan oleh faktor stress.
2.    Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari adanya penyakit lain.atau dengan kata lain, penyebabnya diketahui. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB). Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin).
Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres, alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan. Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal.
-       Hipertensi dalam kehamilan
Hipertensi ditemukan pada ibu hamil baik pada penyakit sebelumnya (5-15% dari total ibu hamil) atau sebagai gangguan yang berhubungan dengan kehamilan, pre-eklamsia (Lyoyd, dalam Wylie). Hipertensi dijuluki sebagai the silent killer karena biasanya tidak menunjukkan gejala dan hanya terdiagnosis melalui skrinning atau ketika penyakit tersebut bermanifestasi pada komplikasi gangguan tertentu. Hipertensi sangat signifikan berkontribusi terhadap angka kesakitan dan kematian ibu dan janin sehingga perlu dilakukan skrinning awal dan pemeriksaan lanjutan selama kehamilan.

B.   PENGGOLONGAN OBAT-OBAT ANTIHIPERTENSI
-       Latar Belakang
Setelah dilakukan diagnosis yang didasarkan pada pengukuran berulang- ulang maka dapat dilakukan pengobatan hipertensi yang sesuai. Hal pertama yang harus diperhatikan yaitu mekanisme pengaturan darah di dalam tubuh.
BP = CO XBPR
 



Tekanan darah dipertahankan melalui pengaturan cardiac output dan peripheral vaskular resistance pada lokasi:
1.    Arteriol
2.    Postcapillary venules
3.    Jantung, dan
4.    Ginjal
Tekanan darah diatur dengan cara mengatur volume intravaskular. Barorefleks yang diperankan oleh saraf otonom yang bekerja sama dengan mekanisme humoral dan RAAS berfungsi untuk mengkoordinasi 4 lokasi pengaturan untuk mempertahankan tekanan darah.
BAROREFLEKS
            Semua obat antihipertensi bekerja pada satu atau lebih mekanisme pengaturan tekanan darah. Terdapat 4 kelompok antihipertensi yaitu:
1.    Diuretika
2.    Antiadrenergik
3.    Vasodilator
4.    Penghambat Angiotensin (ACE-Blockers)

Lokasi Kerja Obat Antihipertensi

1.    Diuretika
Khasiat antihipertensi diuretik adalah berawal dari efeknya meningkatkan ekskresi natrium, klorida, dan air, sehingga mengurangi volume plasma dan cairan ekstrasel. TD turun akibat berkurangnya curah jantung, sedangkan resistensi perifer tidak berubah pada awal terapi. Pada pemberian kronik, volume plasma kembali tetapi masih kira-kira 5% dibawah nilai sebelum pengobatan. Curah jantung kembali mendekati normal.TD tetap turun karena sekarang resistensi perifer menurun. Vasodilatasi perifer yang terjadi kemudian tampaknya bukan efek langsung tiazid tetapi karena adanya penyesuaian pembuluh darah perifer terhadap pengurangan volume plasma yang terus-menerus. Kemungkinan lain adalah berkurangnya volume cairan interstisial berakibat berkurangnya kekakuan dinding pembuluh darah dan bertambahnya daya lentur (compliance) vaskular.
a.    Diuretik tiazid
Menghambat reabsorpsi natrium dan klorida pada pars asendens ansa henle tebal, yang menyebabkan diuresis ringan. Suplemen kalium mungkin diperlukan karena efeknya yang boros kalium.
(HCT)
b.     Loop diuretic
Lebih poten
sial dibandingkan tiazid dan harus digunakan dengan hati-hati untuk menghindari dehidrasi. Obat-obat ini dapat mengakibatkan hipokalemia, sehingga kadar kalium harus dipantau ketat. (Furosemid/Lasix)
c.     Diuretik Hemat Kalium
Meningkatkan ekskresi natrium dan air sambil menahan kalium. Obat-obat ini dipasarkan dalam gabungan dengan diuretic boros kalium untuk memperkecil ketidakseimbangan kaliu
m. (Spirinolactone)
d.     Diuretik Osmotik
Menarik air ke urin, tanpa mengganggu sekresi atau absorpsi ion dalam ginjal.
(Manitol/Resectisol)
2.    Antiadrenergik
Agonis adrenergik meningkatkan tekanan darah dengan merangsang jantung (reseptor ß1) dan/atau membuat konstriksi pembuluh darah perifer (reseptor α1). Pada pasien hipertensi, efek adrenergik dapat ditekan dengan menghambat pelepasan agonis adrenergik atau melakukan antagonisasi reseptor adrenergik.
a.    Penghambat pelepasan adrenergik prasinaptik; dibagi menjadi antiadrenergik “sentral” dan “perifer”. Antiadrenergik sentral mencegah aliran keluar simpatis (adrenergic) dari otak dengan mengaktifkan reseptor α2 penghambat. Antiadrenergik perifer mencegah pelepasan norepinefrin dari terminal saraf perifer (misal yang berakhir di jantung). Obat-obat ini mengosongkan simpanan norepinefrin dalam terminal-terminal saraf.
b.    Blocker alfa dan beta bersaing dengan agonis endogen memperebutkan reseptor adrenergik. Penempatan reseptor α1 oleh antagonis menghambat vasokontriksi dan penempatan reseptor ß1 mencegah perangsangan adrenergik pada jantung.
3.    Vasodilator
Contoh vasodilator antara lain:
a.     Penghambat angiotensin converting enzyme (ACE)
Menekan sintesis angiotensin II, suatu vasokonstriktor poten. Selain itu, penghambat ACE dapat menginduksi pembentukan vasodilator dalam tubuh
.
b.    Blocker pintu masuk kalium
Mencegah influks kalsium ke dalam sel-sel otot dinding pembuluh darah. Otot polos membutuhkan influks kalsium ekstrasel untuk kontraksinya. Blockade influks kalsium mencegah kontraksi, yang menyebabkan vasodilatasi
.
c.    Vasodilator langsung
Merelaksasi sel-sel otot polos yang mengelilingi pembuluh darah dengan mekanisme yang belum jelas, tetapi mungkin melibatkan pembentukan nitrik oksida oleh endote vascular.

-       Berikut ini adalah obat-obat Antihipertensi :
1.    Obat Diuretik Tiazid
Nama obat
                     :Hidroklorotiazid
Mekanisme Kerja
          :menghambat reabsorpsi natrium dan klorida dalam pars asendens ansa henle tebal dan awal tubulus distal. Hilangnya                                                           K+, Na+, dan Cl- menyebabkan                                                        peningkatan pengeluaran urin 3x.                                                           Hilangnya natrium menurunkn GFR.
Indikasi                            :Obat awal yang ideal untuk hipertensi,                                                   edema kronik, hiperkalsuria idiopatik.                                                           Digunakan untuk menurunkan pengeluaran                                          urin pada diabetes inspidus (GFR rendah                                          menyebabkan peningkatan reabsorpsi                                                   dalam nefron
proksimal, hanya berefek                                                       pada diet rendah garam)
Efek tak diinginkan
      :Hipokalemia, hiponatremia, hiperglikemia,                                           hiperurisemia, hiperkalsemia, oliguria,                                                          anuria, kelemahan, penurunan aliran                                                          plasenta, alergi sulfonamide, gangguan                                                      saluran cerna.

2.     Obat Loop Diuretic
a.    Furosemid (Lasix)
Mekanisme Kerja     :menghambat reabsorpsi klorida dalam                                      pars asendens ansa henle tebal. K+                                          banyak hilang ke dalam urin.
Indikasi                      :Diuretik yang dipilih untuk pasien dengan                               GFR rendah dan kedaruratan hipertensi.                                  Juga edema, edema paru dan untuk                                        mengeluarkan banyak cairan. Kadangkala                              digunakan untuk menurunkan kadar                                           kalium serum.
Efek tak diinginkan :Hiponatremia, hipokalemia, dehidrasi,                                        hipotensi,hiperglikemia, hiperurisemia,                                        hipokalsemia, ototoksisitas, alergi                                        sulfonamide, hipomagnesemia, alkalosis                                  hipokloremik, hipovolemia.
b.    Asam Etakrinat (Ethacrynate)
Indikasi                       :per oral untuk edema, IV untuk edema                                                   paru.
Efek tak diinginkan              :Paling ototoksik, l
ebih banyak gangguan                                   saluran cerna, kecil kemungkinan                                                 menyebabkan alkalosis. Lain-lain seperti                                 Furosemid.
c.    Butmetanid (Bumex)
Indikasi                       :per oral untuk edema, IV untuk edema                                                   paru
Efek tak diinginkan              :serupa dengan furosemid. Ototoksisitas                                     belum pernah dilaporkan. Dosis besar                                         dapat menyebabkan mialgia berat.
3.     Obat Diuretik Hemat Kalium.
a.  Amilorid (midamor)
Mekanisme Kerja      :secara langsung meningkatkan ekskresi                                              Na+ menurunkan sekresi K+ dalam                                                          tubulus kontortus distal.
Indikasi                      :Digunakan bersama diuretik lain karena                                                efek hemat K+ mengurangi efek                                                    hipokalemik. Dapat mengoreksi alkalosis                                                metabolik.
Efek tak diinginkan    :Hiperkalemia, kekurangan natrium atau                                                air. Pasien dengan diabetes militus dapat                                                 mengalami intoleransi
glukosa.
b.   Spironolakton (aldactone)
Mekanisme Kerja
     :antagonis aldosteron (aldosteron                                                             menyebabkan retensi Na+). Juga memiliki                                             kerja serupa dengan amilorid.
Indikasi
                      :digunakan dengan tiazid untuk edema                                                              (pada gagal jantung kongestif), sirosis,                                                               dan sindrom nefrotik. Juga untuk                                                           mengobati atau mendiagnosis           hiperaldo-                                            steronisme.
Efek tak diinginkan
  :seperti amilorid. Juga menyebabkan                                                       ketidakseimbangan endokrin (jerawat, kulit                                            berminyak, hirsutisme, ginekomastia)
c.    Triamterin (Dyrenium)
Mekanisme Kerja      :secara langsung menghambat reabsorpsi                                             Na+ serta sekresi K+ dan H+ dalam                                                           tubulus koligentes.
Indikasi                       :digunakan untuk  hiperaldosteronisme.                                                 Lain-lain seperti Spironolakton.
Efek tak diinginkan  :dapat menyebabkan urin menjadi biru dan                                          menurunkan aliran darah ginjal. Lain-lain                                               seperti amilorid.
4.     Obat Diuretik Osmotik
a.    Manitol (mis. Resectisol)
Mekanisme kerja     :secara osmotic menghambat reabsorpsi                                    natrium dan air. Awalnya menaikkan                                               volume plasma dan tekanan darah.
Indikasi                       :gagal ginjal akut, glaucoma, sudut tertutup                              akut, edema otak, untuk menghilangkan                                  kelebihan dosis beberapa obat.
Efek tak diinginkan              :sakit kepala, mual, muntah, menggigil,                                                  pusing, polidipsia, letargi, kebingungan,                                    dan nyeri dada.
5.     Obat Anti adregernik sentral
a.     Klonidin (catapres)
Mekanisme kerja     :bekerja di otak sebagai agonis adrenergic                                
α2 yang menyebabkan penurunan aktifitas                                   system saraf simpatis (penurunan                                                   frekuensi jantung, curah jantung dan                                         tekanan darah). Mekanisme pastinya                                          belum diketahui.
Indikasi                      :hipertensi ringan sampai sedang
Efek tak diinginkan :ruam, mengantuk, mulut kering,konstipasi,                              sakit kepala, gangguan ejakulasi.                                              Hipertensi balik bila dihentikan mendadak.                             Untuk membatasi toksisitas, mulai dengan                              dosis rendah dan tingkatkan perlahan.

C.   SIFAT FISIKA DAN KIMIA OBAT ANTIHIPERTENSI
Walaupun fungsinya sama yaitu untuk menurunkan tekanan darah, tetapi setiap golongan obat antihipertensi memiliki sifat fisika dan kimia yang berbeda. Berdasarkan mekanisme kerja dari tiap-tiap obat antihipertensi di atas maka kita dapat menarik garis besar dari perbedaan mendasar keempatnya.
Di bawah ini saya hanya akan membahas mengenai salah satu obat antihipertensi golongan antiadrenergik yaitu klonidin
-       Sifat Kimia
Struktur Kimia
 Sumber: (Basic and Clinical Pharmacology. 10th edition. San Francisco: McGraw-Hill, 2006)


Klonidin merupakan α2 agonis yang biasanya digunakan dalam terapi antihipertensi. Klonidin memiliki efek terhadap kedua reseptor α (α2 dan α1) dengan perbandingan potensi 200:1. Dari tabel di bawah ini dapat dilihat beberapa efek obat alfa terhadap beberapa reseptor.

-       Sifat Fisika Klonidin
a.    Klonidin : B.m = 230
b.    pKa = 8,05
c.    Densitas pada t 25o C = 1,003
d.    t 37o C = 0,999
e.    sifat = lipofilik
f.     L.C.S : Densitas pada t 25o C = 1,004
g.    t 37o C = 1,001
-        Mekanisme Penurunan Tekanan Darah oleh Klonidin
Fungsi dari reseptor α dan β masih diteliti, namun kemungkinan erat kaitannya dalam pengaturan tekanan darah dan denyut jantung. Reseptor α2 presinaps di otak dan medulla spinalis juga terlibat dalam menghambat pelepasan norepinefrin presinaps. Reseptor α2 postsinaps terlibat dalam banyak hal, antara lain menghambat pengeluaran insulin, menghambat motilitas usus, menstimulasi pengeluaran hormon pertumbuhan, dan menghambat pengeluaran ADH.10 Mekanisme penurunan tekanan darah oleh klonidin secara tepat belum dapat diketahui. Tetapi klonidin telah dapat diketahui bekerja dengan menstimulasi reseptor α2 di medulla oblongata. Hal ini dibuktikan dengan injeksi dalam jumlah sedikit melalui arteri vertebralis atau langsung pada cisterna magna dapat menimbulkan efek penurunan tekanan darah.19 Klonidin menginhibisi pusat vasomotor simpatis dengan menstimulus reseptor α2 di medulla oblongata. Akibat mekanisme tersebut, aktivitas sistem saraf simpatis di perifer berkurang, tekanan darah sistolik dan diastolik menurun, dan terjadi bradikardi.







DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh, 1996, Penggolongan Obat berdasarkan khasiat dan penggunaan, UGM Press; Yogakarta
Ansel, Howard C, 2005, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press; Jakarta
http://cardiovascularvloe.blogspot.com/; diakses hari selasa tanggal 20 maret 2012
http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia_medisinal; diakses hari selasa tanggal 20 maret 2012
http://id.wikipedia.org/wiki/Tekanan_darah_tinggi; diakses hari selasa tanggal 20 maret 2012
http://www.docstoc.com/docs/7804134/DIURETIK; diakses hari selasa tanggal 20 maret 2012
http://www.eprints.ac.id/7519/Resta_Farits.pdf; diakses hari kamis tanggal 22 maret 2012


2 komentar:

Anonim mengatakan...

if you are looking to remove the stress,anxiety and depression permanently and to get rid of the addiction of dangerous drugs like cocaine and morphine buy red vein kratom by visiting the link

Anonim mengatakan...

no doubt that the marijuna and the buy kratom wholesale should be made legal as it has a wide range of the advantages in making the mood pleasant ends the addiction of dangerous drugs like cocaine and morphine and in making the mood pleasant for more details visit the link

Referral Code Kredivo

 Kredivo adalah kartu kredit digital berupa aplikasi di smartphone yang memberikan kamu kemudahan untuk beli sekarang dan bayar nanti dalam...