Minggu, 13 November 2011

Pembantaian Orangutan di Kalimantan ulah Malaysia

Puluhan orangutan (Pongo pygmaeus) menjadi bulan-bulanan warga Desa Puan Cepak, Kecamatan Muara Ancalong, Kutai Kartanegara. Berdalih sebagai hama yang merusak dan menggagalkan panen tanaman kepala sawit, warga lantas menangkap, mengikat, merangkeng dan menyiksa. Seluruh aksi pembantaian sadis ini dikabarkan terjadi di sebuah areal konsesi perkebunan kelapa sawit.

Saksi mata yang enggan dikorankan namanya menunjukkan sejumlah foto dokumentasi saat kejadian itu berlangsung tahun 2009-2010 lalu. Menurut dia, pembantaian sadis puluhan orangutan itu atas sepengetahuan dan restu perusahaan sawit.



Saksi mata lainnya, yang diwawancarai oleh seorang reporter televisi RCTI Indonesia, Mr. X dan Mr. Y juga mengkonfirmasi kebenaran berita tersebut. Mr. X yang merupakan mantan pekerja di perkebunan Kelapa sawit Khaleda miik perusahaan Malaysia tersebut mengatakan bahwa pihak perkebunan tersebut menganggap Orangutan dan monyet sebagai hama sehingga menyiapkan para pemburu untuk menyigkirkan mereka.


Mr. Y membeberkan bahwa pihak Malaysia itu menyiapkan dana khusus untuk melakukan pembasmian orangutan. Dana yang disiapkan tidak diketahui pasti anggarannya, tetapi setiap pemburu menembak dan membawa bangkai Orangutan itu kepada pihak mereka, maka akan diberi imbalan 1 juta per kepala.

Direktur perusahaan sawit itu saat dikonfirmasi kemarin, mengaku tidak tahu menahu adanya aksi pembantaian yang disebut-sebut atas restu perusahaannya."Memang informasi itu ada saya dapat dari sejumlah orang. Bahkan ada yang SMS ke HP (hanphone) saya. Tapi saya tidak tahu hal, karena saya baru masuk perusahaan ini September 2010," ujarnya.

Saksi mata yang datang ke kantor Tribun itu menuturkan, saat itu perusahaan sawit tersebut sedang gencar-gencarnya melakukan perluasan area perkebunan kelapa sawit. "Area perkebunan ini bersebelahan dengan area KBK (Kawasan Budidaya Kehutanan) yang di dalamnya sudah hidup habitat orangutan. Tentu ini membuat kehidupan mereka terusik. Orangutan-orangutan itu berhamburan keluar dari tempat tinggal mereka. Mungkin juga kesal karena kehidupan mereka terusik dengan aktivitas pekebunan sawit itu, orangutan pun merusak sejumlah sawit yang sedang tumbuh. Dari situlah awalnya, perusahaan kemudian membuat kebijakan bahwa orangutan adalah hama yang wajib dibasmi atau dibunuh," kata pria tersebut menuturkan.

Proses pembantaian, lanjutnya, dilakukan dengan cara sayembara terbuka yang diumumkan pihak perusahaan, yakni berbunyi: "barang siapa baik karyawan maupun masyarakat sekitar yang mampu menangkap orangutan itu baik dalam keadaan hidup maupun mati, diberikan imbalan berupa uang dari mulai Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta. Imbalan disesuaikan dengan kecil dan besarnya tangkapan itu."

"Dari situlah baik karyawan perusahaan maupun masyarakat sekitar pun berlomba-lomba berburu orangutan. Ketika dapat baik sudah mati ataupun hidup, langsung diserahkan ke pihak perusahaan khususnya di lokasi pembantaian yang sudah disediakan. Dan karyawan ataupun warga yang menyerahkan itu, langsung diberi uang cash sesuai dengan kecil dan besarnya orangutan yang ditangkap," terangnya.

Setelah diserahkan, ada petugas khusus dari perusahaan yang membantai mereka satu-persatu. Yakni dengan cara memotong-motong tubuh orangutan itu menjadi banyak. Potongan tubuh orangutan itu dibungkus dengan karung, untuk kemudian dibuang ke tempat khusus pembuangan yang juga sudah disediakan oleh perusahaan. "Ada tempat pembuangan khususnya, saya lupa," ujarnya.

Salahkan Kontraktor
Direktur perusahaan itu (nama ada pada redaksi) tak berani membenaran atau membantah soal kabar mengenai adanya pembantaian orangutan pada tahun 2009-2010 lalu di areal perusahaan yang ia pimpin sekarang.

"Kalau saya ya, wallahu 'alam, karena pada tahun 2009-2010 saya belum masuk.. Saya masuk di perusahaan itu mulai September 2010 , jadi jujur saya tidak mengetahui kejadian pembantaian tersebut sebagaimana yang dituduhkan," ujar Tonny saat ditemui Tribun di kantornya di Samarinda.

Meski tidak mengetahui kejadian pembantaian orangutan, ia mengaku pernah mendengar informasi adanya pembantaian orangutan itu dari sejumlah warga. Ada warga yang datang langsung ke kantornya maupun orang-orang yang menginformasikannya melalui pesan pendek.
Ia mengatakan, kalaupun benar ada terjadi kejadian pembantaian di areal/lahan perkebunan di arealnya, bukan serta merta kesalahan dan tanggungjawab perusahaan. Itu bisa jadi kesalahan kontraktor selaku pelaksana pekerjaan.

"Seandainya terjadi kejadian pembantaian itu, kalau saya cenderung bukan perusahaan yang disalahkan. Itu kalau pendapat saya ya, karena kita sifatnya hanya melakukan pengawasan saja, sedangkan semua pekerjaan diborongkan kepada kontraktornya langsung," ujarnya.

Menurut saya, pendapatnya itu sangat egois dan terkesan berusaha mencari pembenaran atas kebiadaban yang telah dilakukannya. Sudah jelas bahwa habitat asli Orangutan adalah hutan Kalimantan yang luas dimana mereka dapat menemukan makanan dengan mudah. Tetapi karena penyerobotan lahan oleh manusia yang diubah dari tempat tinggal mereka menjadi perkebunan kelapa sawit, maka mereka tidak punya pilihan lain selain beradaptasi dengan tanaman kelapa sawit karena makanan aslinya sudah tidak ada akibat penebangan dadn pembakaran hutan untuk dijadikan lahan perkebunan. Awalnya, para Orangutan ini juga tidak mengenal kelapa sawit, tetapi setelah mereka mencoba dan bisa dimakan, akhirnya mereka menjadikannya sebagai makanan mereka.

Tindakan pembantaian Orangutan yang semata-mata untuk melidungi aset perkebunan ini harus diusut dan ditindak tegas. Pihak Malaysia sendiri kerapkali mencari masalah dengan mencuri dari Indonesia dan mengakui kebudayaan milik negara kita. Bahkan, di iklan TV di Starworld saya sering melihat iklan untuk pariwisata mereka malah mengatasnamakan kepunyaan kita. Bukan cuma itu, sebuah iklan contact lensa yang diiklankan oleh seorang gadis Malaysia malah memamerkan ukulele. Apa sekarang kita akan tinggal diam saja saat satwa asli Indonesia yang terlindungi dibinasakan...???

Referral Code Kredivo

 Kredivo adalah kartu kredit digital berupa aplikasi di smartphone yang memberikan kamu kemudahan untuk beli sekarang dan bayar nanti dalam...