Minggu, 19 Juni 2011

GLIKOLISIS




Latar Belakang
Metabolisme merupakan total reaksi kimia yang terjadi didalam tubuh makhluk hidup untuk  kelangsungan  kehidupannya.  Secara  keseluruhan  reaksi-reaksi  tersebut bertanggungjawab  untuk  menjaga  availabilitas  organisme.  Reaksi-reaksi  tersebut secara  sendiri-sendiri  mungkin  tidak  penting,  tetapi  secara  keseluruhan  dalan jejaring akan membentuk puzzle yang sangat dibutuhkan untuk keseimbangan fungsi biokimia. Adanya gangguan pada salah satu reaksi akan menyebabkan abnormalitas metabolisme.
Reaksi-reaksi  metabolisme  dapat  dibagi  menjadi  dua  sesuai  dengan  tujuan reaksinya,  yaitu  katabolisme  dan  anabolisme.  Katabolisme  merupakan  reaksi peluruhan  (degradasi)  yang  menghasilkan  energi,  sedang  anabolisme  merupakan reaksi sintesis yang memerlukan energi. Keduanya berjalan secara seimbang sesuai dengan fungsi dan kebutuhan hidup organisme.
Glukosa merupada senyawa  golongan karbohidrat yang merupakan sumber  energi utama  bagi  makhluk  hidup  karena  glukosa  berasal  dari  proses  fotosintesis  yang mengkonversi energi matahari menjadi energi kimia. Energi yang  terkandung dalam senyawa  glukosa  selanjutnya  akan  ditransformasi  melalui  serangkaian  reaksi katabolisme yang dinamakan glikolisis. Glikolisis terjadi di dalam sitosol di dalam sel yang  menghasilkan  senyawa  luruhan  dan  energi  konversi  dalam  bentuk  senyawa kimia yang lain (ATP).
     Perumusan Masalah
Karbohidrat (Sakarida atau gula) yang kita makan sebagai sumber energi masuk ke dalam rubuh dalam bentuk senyawa kompleks, seperti disakarida (Maltosa dan laktosa) dan polimer pati (Amilosa dan amilopektin). Agar dapat digunakan oleh tubuh untuk menghasilkan energi, senyawa karbohidrat yang diserap dari dinding saluran pencernan harus dipotong menjadi senyawa gula sederhana yang disebut monosakarida, seperti glukosa.
Pencernaan polimer karbohidrat dimulai di mulut. Di dalam mulut, terdapat enzim amilase yang dapat membantu memotong polimer karbohidrat menjadi struktur yang lebih sederhana. Selain itu, air liur di mulut memiliki pH yang cukup asam untuk membantu pemotongan senyawa karbohidrat kompleks. Pada tahap selanjutnya, pencernaan karbohidrat kompleks berlanjut di daerah lambung. Enzim amilase yang masih ada akan segera berhenti bekerja karena pH lambung yang sangat asam. Setelah menjadi unsur yang lebih sederhana, maka akan masuk ke dalam usus pencernaan.
Di dalam usus, pemotongan karbohidrat dilakukan dengan bantuan enzim-enzim. Enzim ini di pankreas memiliki aktivitas yang sama dengan enzim amilase di mulut. Secara garis besar, enzim ini akan memecah disakarida dan oligosakarida menjadi monosakarida. Enzim lain yang turut membantu pemecahan molekul kompleks karbohidrat di usus adalah maltase, sukrase, laktase dan trehelase. Hasil dari pemotongan enzim-enzim ini adalah molekul karbohidrat sederhana (Monosakarida), seperti glukosa. Senyawa ini kemudian diedarkan ke seluruh tubuh dan dikonversi menjadi asam lemak, asam amino, glikogen, dan lain-lain.
Di dalam tubuh, glukosa akan dioksidasi untuk menjadi senyawa lain sesuai dengan keperluan masing-masing sel, seperti asam laktat dan asam piruvat. Peristiwa oksidasi inilah yang umum dikenal dengan istilah glikolisis. Glikolisis terjadi di sitosol dan merupakan langkah awal dari proses produksi energy utama di dalam tubuh manusia dimana asam piruvat menjadi salah satu senyawa prekursor yang terpenting.
   Definisi Glikolisis
Glikolisis adalah serangkaian reeaksi biokimia dimana glukosa dioksidasi menjadi molekul asam piruvat. Glikolisis adalah salah satu proses metabolisme yang paling universal yang kita kenal dan terjadi (dengan berbagai variasi) di banyak jenis sel dalam hampir seluruh bentuk organisme. Proses glikolisis sendiri menghasilkan lebih sedikit energi per molekul glukosa dibandingkan dengan oksidasi aerobik yang sempurna. Energi yang dihasilkan disimpan dalam senyawa organic berupa adenosine triphospate atau yang lebih umum dikenal dengan istilah ATP.
 Lintasan Glikolisis
Lintasan glikolisis yang paling umum adalah lintassan Embden-Meyerhof-Parnas (EMP) yang pertama kali ditemukan oleh Gusta Embden, Otto Meyerhof dan Jakub Karol Parnas. Selain itu juga terdapat lintasan Entner-Doudoroff yang ditemukan oleh Michael Doudoroff dan Nathan Entner terjadi hanya pada sel prokariota dan berbagai lintasan heterofermentatif dan homofermentatif.
Ringkasan reaksi glikolisis pada lintasaan EMP adalah sebagai berikut:
C6H12O6 + 2ATP + 2NAD+ ---> 2Piruvat + 4 ATP + 2nADH
Sedangkan reaksi dari glikolisis, siklus asam sitrat dan fosforilasi oksidatif adalah:
C6H12O6 + 6O2   ---> 6CO2 + 6H2O + energy
Pencernaan Karbohidrat
Karbohidrat (Sakarida atau gula) yang kita makan sebagai sumber energi masuk ke dalam rubuh dalam bentuk senyawa kompleks, seperti disakarida (Maltosa dan laktosa) dan polimer pati (Amilosa dan amilopektin). Agar dapat digunakan oleh tubuh untuk menghasilkan energi, senyawa karbohidrat yang diserap dari dinding saluran pencernan harus dipotong menjadi senyawa gula sederhana yang disebut monosakarida, seperti glukosa.
Pencernaan polimer karbohidrat dimulai di mulut. Di dalam mulut, terdapat enzim amilase yang dapat membantu memotong polimer karbohidrat menjadi struktur yang lebih sederhana. Selain itu, air liur di mulut memiliki pH yang cukup asam untuk membantu pemotongan senyawa karbohidrat kompleks. Pada tahap selanjutnya, pencernaan karbohidrat kompleks berlanjut di daerah lambung. Enzim amilase yang masih ada akan segera berhenti bekerja karena pH lambung yang sangat asam. Setelah menjadi unsur yang lebih sederhana, maka akan masuk ke dalam usus pencernaan.
Di dalam usus, pemotongan karbohidrat dilakukan dengan bantuan enzim-enzim. Enzim ini di pankreas memiliki aktivitas yang sama dengan enzim amilase di mulut. Secara garis besar, enzim ini akan memecah disakarida dan oligosakarida menjadi monosakarida. Enzim lain yang turut membantu pemecahan molekul kompleks karbohidrat di usus adalah maltase, sukrase, laktase dan trehelase. Hasil dari pemotongan enzim-enzim ini adalah molekul karbohidrat sederhana (Monosakarida), seperti glukosa. Senyawa ini kemudian diedarkan ke seluruh tubuh dan dikonversi menjadi asam lemak, asam amino, glikogen, dan lain-lain.
Di dalam tubuh, glukosa akan dioksidasi untuk menjadi senyawa lain sesuai dengan keperluan masing-masing sel, seperti asam laktat dan asam piruvat. Peristiwa oksidasi inilah yang umum dikenal dengan istilah glikolisis. Glikolisis terjadi di sitosol dan merupakan langkah awal dari proses produksi energy utama di dalam tubuh manusia dimana asam piruvat menjadi salah satu senyawa prekursor yang terpenting.
ILintasan EMP
No
Substrat
Produk
Enzim
Reaksi
Keterangan
1
Glukosa
+
ATP
Glukosa-6 Fosfat
+ADP
+H+
Heksokinase
+Kofaktor
: Mg2+
Fosforilasi
Substrat
Sebuah molekul ATP dibutuhkan untuk mengkonversi glukosa menjadi G6P. Reaksi ini menjaga kadar gula dalam sitoplasma tetap rendah sebagai stimulasi agar asupan ke dalam sitool tetap mengalir melalui GLUT dan mencegah glukosa untuk keluar kembali ke dalam periplasma.
2
Glukosa-
6 Fosfat
Fruktosa-
6 Fosfat
Fosfoglukosa
Isomerase
Isomerasi
Enzim fosfoglukosa isomerase akan memindahkan gugus karbonil oksigen dan mengkonversi G6P menjadi bentuk isomernya berupa fruktosa-6 Fosfat (F6P). Reaksi ini bersifat umpan balik, namun seringkali terdorong ke reaksi beerikutnya karena kadar F6P menjadi tinggi, reaksi umpan balik akan terjadi dengan sendirinya mengkonversi F6P menjadi G6P. Fenomena ini dijelaskan dengan prinsip Le Chatelier.
3
Fruktosa-
6 Fosfat
+ ATP
Fruktosa-
1,6 bifosfat
+ ATP
+H+
Fosfofruktokinase
+ Kofaktor Mg 2+


4
Fruktosa-
1,6 bifosfat

Dihidroksi aseton fosfat
+ Gliseral
dehid- 3
Fosfat

Aldolase


5
Dihidroksi aseton fosfat

Gliseral
dehid- 3
Fosfat
Trios fosfat isokinase
Isomerasi

6
Gliseral
dehid- 3
fosfat
+ NAD+
+Pi
1,3- birosfogli
serat
+ NADH
+ H+

Gliseraldehid- 3
fosfat dehidrogenase
Oksidasi

7
1,3- bifosfogliserat
+ ADP
3- fosfogliserat
+ ATP
Fosfogliserat kinase
+ Kofaktor : Mg2+


8
3- fosfogliserat
2- fosfogliserat
Fosfogliserat mutase


9
2- fosfogliserat
osfoenolpiruvat
Enolase


10
Fosfoenolpiruvat+ ADP
+ H+
Pyr
+ ATP
Piruvat kinase
+ Kofaktor : Mg2+




V.           Tahap-Tahap Glikolisis
Tahap I: Investasi energi
1.    Glikolisis
 Diawali  dengan  reaksi  pembentukan  senyawa  glukosa  6-fosfat  dari glukosa. Reaksi tersebut merupakan reaksi yang membutuhkan energi yang diambil dari pemutusan ikatan fosfat dari ATP. Reaksi ini dikatalisis oleh enzim heksokinase atau glukokinase.
 Heksokinase  dapat  ditemukan  dalam  semua  sel  organisme.  Enzim ini  memiliki spesifitas  katalitik  yang  rendah.  Hampir  semua  monosakarida  dapat  difosforilasi. Aktivitasnya dapat dihambat oleh produknya, yaitu glukosa-6-fosfat. Glukokinase  diitemukan  di  lever,  memiliki  spesifitas  katalitik  yang  tinggi  dan  tidak dapat  dihambat  oleh  glukosa-6-fosfat..  Enzim ini  aktif  bila  kadar  glukosa  tinggi  di dalam darah.
2.    Isomerisasi  glukosa  6-fosfat. 
Reaksi  yang  kedua  adalah  pembentukan  isomer fruktosa  6-fosfat  dari  glukosa  6-fosfat.  Reaksi  ini  dikatalisis  oleh fosfoglukoisomerase.

glucose-6-P (aldose)        --->       fructose-6-P (ketose)

3.    Fosforilasi kedua. Reaksi fosforilasi fruktosa-6-fosfat menjadi fruktosa-1,6-bisfosfat oleh  enzim  fosfofruktokinase.
 Reaksi  ini  berjalan  spontan  dan  merupakan  rate limiting  step  pada  proses  glikolisis.  Pada  reaksi  ini  dibutuhkan  1  mol  ATP  dan diregulasi secara ketat. Fosfofruktokinase dapat dihambat oleh ATP.
fructose-6-P + ATP     --->       fructose-1,6-bisP + ADP
4.     Reaksi pemutusan menjadi 2 triosafosfat.
Reaksi  ini  dikatalisis  oleh  enzim  aldolase  dan  terjadi  pemutusan  aldol  yang merupakan kebalikan dari reaksi kondensasi aldol membentuk membentuk 2 molekul gliseraldehid  3-fosfat  yang  selanjutnya  mengalami  isomerisasi  membentuk dihidroksiasetonfosfat.  Reaksi  isomerisasi  ini  dikatalisis  oleh  enzim  triosefosfat isomerase.
5.     Isomerisasi triosafosfat
Hanya  gliseraldehid-3-fosfat yang akan diteruskan dalam proses  glikolisis sehingga dengan  adanya  reaksi  isoerisasi  ini  memungkinkan  proses  glikolisis  berjalan sempurna. Pada  akhir  tahap  I  glikolisis  ini  menghasilkan  2 molekul  gliseraldehid-3-fosfat  dan membutuhkan 2 molekul ATP untuk setiap 1 molekul glukosa.
Tahap II
6.     Oksidasi gliseraldehid-3-fosfat.
 Reaksi  ini dikatalisis oleh enzim gliseraldehid-3-fosfat dehidrogenase dengan NAD+ sebagai koenzimnya.
glyceraldehyde-3-P + NAD+ + Pi           --->      1,3-bisphosphoglycerate + NADH + H+
Reaksi oksidasi  ini  terjadi addisi gugus  fosfat dan menghasilkan NADH. Pada  tahap ini terbentuk pertama kali senyawa yang mengandung energi tinggi.

NAD+: Nukotinamid Adenin dinuklotida, bentuk teroksidasi
NADH: Nukotinamid Adenin dinuklotida, bentuk tereduksi
7.     Transfer fosfat untuk membentuk ATP
Senyawa 1,3 bisfosfogliserat merupakan senyawa berenergi  tinggi yang selanjutnya gugus  fosfat  tersebut  ditransfer  untuk membentuk ATP  yang  dikatalisis  oleh  enzim fosfogliserat  kinase  dengan  ko-faktor  Mg2+.  Enzim ini  mirip  dengan  heksokinase yang  mengalami  prubahan  konformasi  yang  diinduksi  oleh  substrat.  Reaksi  ini bersifat reversible.
1,3-bisphosphoglycerate + ADP        --->         3-phosphoglycerate + ATP
8.    Perpindahan posisi gugus fosfat
 Pada  tahap  ini  terjadi  reaksi  perpindahan  gugus  fosfat  pada  3-fosfogliserat  yang berada  pada  posisi  C-3  berpindah  ke  OH  posisi  C-2  yang  dikatalisis  oleh  enzim fosfogliserat mutase. Reaksi ini menghasilkan 2-fosfogliserat.
3-phosphoglycerate                  --->                 2-phosphoglycerate
 Pada  katalisis  ini  residu  histidin  berperan  penting  pada  transfer  fosfat  ion  dengan memberikan dan menerima gugus fosfta.
9.     Pembentukan senyawa berenergi tinggi kedua.
Pembentukan  senyawa  ini  dilakukan  dengan  dehidrasi  yang  dikatalisis  oleh enzim  enolase  yang  memiliki  ko-faktor  Mg2+.  Reaksi  ini  dapat  dihambat  oleh fluorida.
 2-phosphoglycerate                         phosphoenolpyruvate + H2O
10.  Pembentukan ATP akhir
Reaksi  ini berjalan spontan dan  terjadi  transfer gugus  fosfat dari  fosfoenolpirufat ke ADP  membentuk  ATP.  Pelepasan  fosfat  ion  menyebabkan  terjadinya  ikatan  enol yang  tidak  stabil  sehingga  akan  terkonversi  ke  bentuk  keto  dan  menjadi  piruvat. Reaksi  ini dikatalisis oleh enzim piruvat kinase. Enzim  ini memerlukan Mg+ sebagai ko-faktor. Piruvat merupakan hasil akhir glikolisis.
phosphoenolpyruvate + ADP          --->            pyruvate + ATP
Resume glikolisis tahap I dan tahap II (kali dua)
Kalkulasi net ATP untuk setiap mol glukosa:
-       Reaksi tahap I dibutuhkan 2 mol ATP
-       Reaksi tahap II masing-masing dihasilkan 2 ATP;
jadi totalnya ada 4 ATP
Net produksi ATP = 4 – 2 = 2 mol

Reaksi total glikolisis (dengan mengabaikan H+):
glucose + 2 NAD+ + 2 ADP + 2 Pi        --->     2 pyruvate + 2 NADH + 2 ATP

 Glikolisis pada organisme Aerobik dan Anaerobik
I.              Pada organisme aerobik:
Piruvat  yang  dihasilkan  oleh  glikolisis  ini  akan  dioksidasi menghasilkan  CO2  pada siklus Kreb. NADH  yang  dihasilkan  oleh  glikolisis  dan  siklus  Kreb  akan  di-reoksidasi  melalui rantai  oksidasi  dan  menghasilkan  lebih  banyak  lagi  ATP.
II.            Pada organisme an-aerobik:
NADH akan di-reoksidasi melalui serangkaian reaksi, karena NAD+ diperlukan untuk reaksi gliseraldehid-3-fosfat dehidrogenase. Piruvat  akan  dikonversi  menjadi  beberapa  jenis  senyawa  yang  selanjutnya  akan diekskresikan.
 Jalur lengkap, termasuk glikolisis dan re-oksidasi NADH disebut fermentasi. Pada keadaan keadaan olahraga, piruvat akan direduksi menjadi  laktat oleh enzim laktat dehidrogenase dan NADH akan mengalami re-oksidasi menjadi NAD+. Keadaan  tersebut  dapat  terjadi  bila  metabolisme  aerobik  tidak  dapat  memenuhi kebutuhan energi. Laktat  dapat  diekskresikan  atau  masuk  ke  pembuluh  darah  dan  dikonversi  lagi menjadi piruvat oleh Laktat dehidrogenase.  
 Laktat juga merupakan sumber energi yang signifikan bagi otak. Beberapa  organisme  anaerobic  melakukan  metabolisme  glukosa  menghasilkan etanol sebagai produk sampingnya.
Pada  reaksi  tersebut    NADH  akan  dikonversi  menjadi  NAD+  oleh  enzim  Alkohol dehidrogenase.
Perbandingan total reaksi:
 Glycolysis, mengabaikan H+:   
glucose + 2 NAD + 2 ADP + 2 Pi       --->    2 pyruvate + 2 NADH + 2 ATP
Fermentation, from glucose to lactate (alcohol) :
glucose + 2 ADP + 2 Pi       --->       2 lactate (alcohol) + 2 ATP
Katabolisme anaerobic dari glukosa hanya menghasilkan 2 mol ATP   72 Enzim yang mengkatalisis reaksi spontan pada glikolisis:
-       - Heksokinase,
-       - fosfofruktokinase
-      -  dan piruvat kinase
 Enzim-enzim tersbut diregulasi:
-       Lokal kontrol: dihambat oleh produk reaksi
-       Global kontrol: hormon
Metabolisme glukosa di hati
Glukokinase merupakan enzim yang berperan dalam glikolisis di lever dan reaksinya tidak  dihambat  oleh  produknya,  glukosa-6-fosfat.  Enzim  ini  bekerja  pada  level glukosa darah yang tinggi.
Glukosa-6-fosfat yang  berlebihan di dalam hati akan  dikonversi menjadi glukosa-1-fosfat dan selanjutnya diubah menjadi glikogen.  Akan  tetapi  apabila  kadar  gula  di  dalam  darah  menurun,  glukosa-6-fosfat  akan dikonversi menjadi glukosa dengan melepas fosfat ion dengan katalisator Glukosa-6-fosfatase. Kedua  enzim  tersebut  hanya  ditemukan  di  hati  yang  berguna  untuk  kontrol  kadar gula darah.

SUMBER:
http:/edymei.blog.ugm.ac.id/files/2009/03/viii-glikolisis/pdf
http://www.tpb.ipb.ac.id/index.php/in/materi/kuliah/3/respirasi/selular/







KULTUR TANAMAN KRISAN

1. SEJARAH SINGKAT
Krisan merupakan  tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain Seruni atau Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthenum indicum (kuning), C. morifolium (ungu dan pink) dan C. daisy (bulat, ponpon). Di Jepang abad ke-4 mulai
membudidayakan krisan, dan tahun 797 bunga krisan dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East. Tanaman krisan dari Cina dan Jepang menyebar ke kawasan Eropa dan Perancis
tahun 1795. Tahun 1808 Mr. Colvil dari Chelsa mengembangkan 8 varietas krisan di Inggris. Jenis atau varietas krisan modern diduga mulai ditemukan pada abad ke-17. Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan dikembangkan secara komersial.

2. JENIS TANAMAN
Klasifikasi botani tanaman hias krisan adalah sebagai berikut:
Divisi         : Spermathophyta
Sub Divisi  : Angiospermae
Famili        : Asteraceae
Genus       : Chrysanthemum
Species     : C. morifolium Ramat, C. indicum, C. daisy dll
Jenis dan varietas tanaman krisan di Indonesia umumnya hibrida berasal dari Belanda, Amerika Serikat dan Jepang. Krisan yang ditanam di Indonesia terdiri atas:
a) Krisan lokal (krisan kuno)
Berasal dari luar negri, tetapi telah lama dan beradaptasi di Indoenesia maka dianggap sebagai krisan lokal. Ciri-cirinya antara lain sifat hidup di hari netral dan siklus hidup antara 7-12 bulan dalam satu kali penanaman. Contoh C. maximum berbunga kuning banyak ditanam di Lembang dan berbunga putih di Cipanas (Cianjur).
b) Krisan introduksi (krisan modern atau krisan hibrida) Hidupnya berhari pendek dan bersifat sebagai tanaman annual. Contoh krisan ini adalah C. indicum hybr. Dark Flamingo, C. i.hybr. Dolaroid,C. i. Hybr. Indianapolis (berbunga kuning) Cossa, Clingo, Fleyer (berbunga putih), Alexandra Van Zaal (berbunga merah) dan Pink Pingpong (berbunga pink).
c) Krisan produk Indonesia
Balai Penelitian Tanaman Hias Cipanas telah melepas varietas krisan buatan Indonesia yaitu varietas Balithi 27.108, 13.97, 27.177, 28.7 dan 30.13A.

3. MANFAAT TANAMAN
Kegunaan tanaman krisan yang utama adalah sebagai bunga hias. Manfaat lain adalah sebagai tumbuhan obat tradisional dan penghasil racun serangga. Sebagai bunga hias, krisan di Indonesia digunakan sebagai:
a) Bunga pot
Ditandai dengan sosok tanaman kecil, tingginya 20-40 cm, berbunga lebat dan cocok ditanam di pot, polibag atau wadah lainnya. Contoh krisan mini (diameter bunga kecil) ini adalah varietas Lilac Cindy (bunga warna ping keungu-unguan), Pearl Cindy (putih kemerah-merahan), White Cindy (putih dengan tengahnya putih kehijau-hijauan),  Applause  (kuning cerah), Yellow Mandalay (semuanya dari Belanda).Krisan introduksi berbunga besar banyak ditanam sebagai bunga pot, terdapat 12 varitas krisan pot di Indonesia, yang terbanyak ditanam adalah varietas Delano (ungu), Rage (merah) dan Time (kuning).
b) Bunga potong
Ditandai dengan sosok bunga berukuran pendek sampai tinggi, mempunyai tangkai bunga panjang, ukuran bervariasi (kecil, menengah dan besar), umumnya ditanam di lapangan dan hasilnya dapat digunakan sebagai bunga potong. Contoh bunga potong amat banyak antara lain  Inga, Improved funshine, Brides, Green peas, Great verhagen, Puma, Reagen, Cheetah, Klondike dll.
4. SENTRA PENANAMAN
Daerah sentra produsen krisan antara lain: Cipanas, Cisarua, Sukabumi, Lembang (Jawa Barat), Bandungan (Jawa Tengah), Brastagi (Sumatera Utara).

5. SYARAT PERTUMBUHAN
5.1. Iklim
1) Tanaman krisan membutuhkan air yang memadai, tetapi tidak tahan terhadap terpaan air hujan. Oleh karena itu untuk daerah yang curah hujannya tinggi,
penanaman dilakukan di dalam bangunan rumah plastik.
2) Untuk pembungaan membutuhkan cahaya yang lebih lama yaitu dengan bantuan cahaya dari lampu TL dan lampu pijar. Penambahan penyinaran yang paling baik adalah tengah malam antara jam 22.30–01.00 dengan lampu 150 watt untuk areal 9 m2  dan lampu dipasang setinggi 1,5 m dari permukaan tanah. Periode pemasangan lampu dilakukan sampai fase vegetatif (2-8 minggu) untuk mendorong pembentukan bunga.
3) Suhu udara terbaik untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah antara 20-26 derajat C. Toleran suhu udara untuk tetap tumbuh adalah 17-30 derajat C.
4) Tanaman krisan membutuhkan kelembaban yang tinggi untuk awal pembentukan akar bibit, setek diperlukan 90-95%. Tanaman muda sampai dewasa antara 70- 80%, diimbangi dengan sirkulasi udara yang memadai.
5) Kadar CO2 di alam sekitar 3000 ppm. Kadar CO2 yang ideal untuk memacu fotosistesa antara 600-900 ppm. Pada pembudidayaan tanaman krisan dalam bangunan tertutup, seperti rumah plastik, greenhouse, dapat ditambahkan CO2, hingga mencapai kadar yang dianjurkan.
5.2. Media Tanam
1) Tanah yang ideal untuk tanaman krisan adalah bertekstur liat berpasir, subur, gembur dan drainasenya baik, tidak mengandung hama dan penyakit.
2) Derajat keasaman tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman sekitar 5,5-6,7.
5.3. Ketinggian Tempat
ketinggian tempat yang ideal untuk budidaya tanaman ini antara 700–1200 m dpl.
6. PEDOMAN BUDIDAYA
6.1. Pembibitan
1) Persyaratan Bibit
Bibit diambil dari induk sehat, berkualitas prima, daya tumbuh tanaman kuat, bebas dari hama dan penyakit dan komersial di pasar.
2) Penyiapan Bibit
Pembibitan krisan dilakukan dengan cara vegetatif yaitu dengan anakan, setek pucuk dan kultur jaringan.
a) Bibit asal anakan
b) Bibit asal stek pucuk
Tentukan tanaman yang sehat dan cukup umur. Pilih tunas pucuk yang tumbuh sehat, diameter pangkal 3-5 mm, panjang 5 cm, mempunyai 3 helai daun dewasa berwarna hijau terang, potong pucuk tersebut, langsung semaikan atau disimpan dalam ruangan dingin bersuhu udara 4 derajat C, dengan kelembaban 30 % agar tetap tahan segar selama 3-4 minggu. Cara penyimpanan stek adalah dibungkus dengan beberapa lapis kertas tisu, kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik rata-rata 50 stek.
c) Penyiapan bibit dengan kultur jaringan
Tentukan mata tunas atau eksplan dan ambil dengan pisau silet, stelisasi mata tunas dengan sublimat 0,04 % (HgCL) selama 10 menit, kemudian bilas dengan air suling steril. Lakukan penanaman dalam medium MS berbentuk padat. Hasil penelitian lanjutan perbanyakan tanaman krisan secara kultur jaringan:
1. Medium MS padat ditambah 150 ml air kelapa/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 1,5 mg kinetin/liter, paling baik untuk pertumbuhan tunas dan akar eksplan. Pertunasan terjadi pada umur 29 hari, sedangkan perakaran 26
hari.
2. Medium MS padat ditambah 150 ml air kelapa/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5 BAP/liter, kalus bertunas waktu 26 hari, tetapi medium tidak merangsang pemunculan akar.
3. Medium MS padat  ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5-0.2 mg kinetin/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5-2,0 BAP/liter pada eksplan varietas Sandra untuk membentuk akar pada umur 21-31 hari. Penyiapan bibit pada skala komersial dilakukan dengan dua tahap yaitu:
a) Stok tanaman induk
Fungsinya untuk memproduksi bagian vegetatif sebanyak mungkin sebagai bahan tanaman Ditanam di areal khusus terpisah dari areal budidaya. Jumlah stok tanaman induk disesuaikan dengan kebutuhan bibit yang telah direncanakan. Tiap tanaman induk menghasilkan 10 stek per bulan, dan selama 4-6 bulan dipelihara memproduksi sekitar 40-60 stek pucuk. Pemeliharaan kondisi lingkungan berhari panjang dengan penambahan cahaya 4 jam/hari mulai 23.30–03.00 lampu pencahayaan dapat dipilih Growlux SL 18 Philip.
b) Perbanyakan vegetatif tanaman induk.
1. Pemangkasan pucuk, dilakukan pada umur 2 minggu setelah bibit ditanam, dengan cara memangkas atau membuang pucuk yang sedang tumbuh
sepanjang 0,5-1 cm.
2. Penumbuhan cabang primer. Perlakuan pinching dapat merangsang pertumbuhan tunas ketiak sebanyak 2-4 tunas. Tunas ketiak daun dibiarkan tumbuh sepanjang 15-20 cm atau disebut cabang primer.
3. Penumbuhan cabang sekunder. Pada tiap ujung primer dilakukan pemangkasan pucuk sepanjang 0,5-1 cm, pelihara tiap cabang sekunder hingga tumbuh sepanjang 10-15 cm.
3) Teknik Penyemaian Bibit
a) Penyemaian di bak
Siapkan tempat atau lahan pesemaian berupa bak-bak berukuran lebar 80 cm, kedalaman 25 cm, panjang disesuaikan dengan kebutuhan dan sebaiknya bak berkaki tinggi. Bak dilubangi untuk drainase yang berlebihan. Medium semai berupa pasir steril hingga cukup penuh. Semaikan setek pucuk dengan jarak 3 cm x 3 cm dan kedalaman 1-2 cm, sebelum ditanamkan diberi Rotoon (ZPT). Setelah tanam pasang sungkup plastik yang transparan di seluruh permukaan.
b) Penyemaian kultur jaringan
Bibit mini dalam botol dipindahkan ke pesemaian beisi medium berpasir steril dan bersungkup plastik tembus cahaya.
4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Pemeliharaan untuk stek pucuk yaitu penyiraman dengan sprayer 2-3 kali sehari, pasang bola lampu untuk pertumbuhan vegetatif, penyemprotan pestisida apabila tanaman di serang hama atau penyakit. Buka sungkup pesemaian  pada sore hari dan malam hari, terutama pada beberapa hari sebelum pindah ke lapangan. Pemeliharaan pada kultur jaringan dilakukan di ruangan aseptik, setelah bibir berukuran cukup besar, diadaptasikan secara bertahap ke lapangan terbuka.
5) Pemindahan Bibit
Bibit stek pucuk siap dipindahtanamkan ke kebun pada umur 10-14 hari setelah semai dan bibit dari kultur jaringan bibit siap pindah yang sudah berdaun 5-7 helai dan setinggi 7,5-10 cm.
6.2. Pengolahan Media Tanam
1) Pembentukan Bedengan
Olah tanah dengan menggunakan cangkul sedalam 30 cm hingga gembur, keringanginkan selama 15 hari. Gemburkan yang kedua kalinya sambil dibersihkan dari gulma dan bentuk bedengan dengan lebar 100-120 cm, tinggi 20- 30 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antara bedengan 30-40 cm.
2) Pengapuran
Tanah yang mempunyai pH > 5,5, perlu diberi pengapuran berupa kapur pertanian misalnya dengan dolomit, kalsit, zeagro. Dosis tergantung pH tanah. Kebutuhan dolomit pada pH 5 = 5,02 ton/ha, pH 5,2 = 4,08 ton/ha, pH 5,3 = 3,60 ton/ha, pH 5,4 = 3,12 ton/ha. Pengapuran dilakukan dengan cara disebar merata pada
permukaan bedengan.
6.3. Teknik Penanaman
1) Teknik Penanaman Bunga Potong
a) Penentuan Pola Tanam.
Tanaman bunga krisan merupakan tanaman yangdapat dibudidayakan secara monokultur.
b) Pembuatan Lubang Tanam
Jarak lubang tanam 10 cm x 10 cm, 20 cm x 20 cm. Lubang tanam dengan cara ditugal. Penanaman biasanya disesuaikan dengan waktu panen yaitu pada hari-hari besar. Waktu tanam yang baik antara pagi atau sore hari.
c) Pupuk Dasar
Furadan 3G sebanyak 6-10 butir perlubang. Campuran pupuk ZA 75 gram ditambah TSP 75 gram ditambah KCl 25gram (3:3:1)/m2 luas tanam, diberikan merata pada tanah sambil diaduk.
d) Cara Penanaman
Ambil bibit satu per satu dari wadah penampungan bibit, urug dengan tanah tipis agar perakaran bibit krisan tidak terkena langsung dengan furadan 3G. Tanamkan bibit krisan  satu per satu pada lubang yang telah disiapkan sedalam 1-2 cm, sambil memadatkan tanah pelan-pelan dekat pangkal batang bibit. Setelah penanaman siram dengan air dan pasang naungan sementara dari sungkup plastik transparan.
2) Teknik Penanaman untuk Memperpendek Batang
Penanaman dilakukan sama dengan untuk bunga potong biasa, tetapi dengan menambah cahaya agar tangkai menjadi pendek.
a) Pengaturan dan Penambahan Cahaya
Dilakukan sampai batas tertentu dengan ketinggian tanaman yang dinginkan. Misalnya, bila diinginkan bunga krisan bertangkai 70 cm, maka penambahan cahaya sejak ketinggian 50-60 cm. Lampu dimatikan. Periode berikutnya beralih ke generatif. Tangkai bunga  memanjang mencapai 80 cm. Bila dipanen tangkainya 70 cm, maka tangkai bunga yang tersisa adalah 10 cm pada tanaman. Total lama penyinaran sejak bibit ditanam sampai periode generatif antara 12-15 minggu tergantung varietas krisan.
Cara pengaturan dan penambahan cahaya yaitu dengan pola byarpet, yaitu pencahayaan malam selama 5 menit lalu dimatikan selama 1 menit dilakukan secara berulang-ulang hingga mencapai 30 menit. Cara lain pengaturan dan penambahan cahaya adalah dengan memasang lampu TL pada tengah malam mulai pukul 22.30-01.00.
b) Pemupukan
Waktu pemupukan dimulai umur 1 bulan setelah tanam, kemudian diulang kontinue dan periodik seminggu sekali, dan akhirnya sebulan sekali. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan pada fase vegetatif yaitu Urea 200 gram ditambah ZA 200 gram ditambah KNO3 100 gram per m2  luas lahan. Pada fase Generatif
digunakan pupuk Urea 10 gram ditambah TSP 10 gram ditambah KNO3 25 gram per m2  luas lahan, cara pemberiannya dengan disebar dalam larikan atau lubang ditugal samping kiri dan samping kanan.
c) Pembuangan Titik Tumbuh
Waktu pembuangan titik tumbuh adalah pada umur 10-14 hari setelah tanam, dengan cara memotes ujung tanam sepanjang 5 cm.
d) Penjarangan Bunga
Jika ingin mendapatkan bunga yang besar, dalam 1 tangkai bunga hanya dibiarkan satu bakal bunga yang tumbuh.
3) Teknik Penanaman untuk Bunga Pot
Sebanyak 5-7 Bibit yang telah berakar ditanam di dalam pot yang berisi media sabut kelapa (hancur) atau campuran tanah dan sekam padi (1:1). Untuk memperpendek batang, pot-pot ini ditumbuhkan selama 2 minggu dengan penyinaran 16 jam/hari. Untuk merangsang pembungaan, pot-pot kemudian diberi pencahayaan pendek dengan cara menutupnya di dalam kubung dari jam 16.00-22.00. Selama pertumbuhan tanaman diberi pupuk cir multihara lengkap. Pembungaan ini dapat pula dipacu dengan menambahkan hormon tumbuh giberelin sebanyak 500 ppm pada saat penyinaran pendek. Untuk mendapatkan bunga yang besar dan jumlahnya sedikit, bakal bunga dari setiap batang perlu diperjarang dengan hanya menyisakan satu kuncup bunga. Dengan cara ini akan didapatkan krisan pot dengan 5-7 bunga yang mekar bersamaan.
6.4. Pemeliharaan Tanaman
1) Penjarangan dan Penyulaman
Waktu penyulaman seawal mungkin yaitu 10-15 hari setelah tanam. Penyulaman dilakukan dengan cara mengganti bibit yang mati atau layu permanen dengan bibit yang baru.
2) Penyiangan
Waktu penyiangan dan penggemburan tanah umumnya 2 minggu setelah tanam. Penyiangan dengan cangkul atau kored dengan hati-hati membersihkan rumput- rumput liar.
3) Pengairan dan Penyiraman
Pengairan yang paling baik adalah pada pagi atau sore hari, pengairan dilakukan kontinu 1-2 kali sehari, tergantung cuaca atau medium tumbuh. Pengairan dilakukan dengan cara mengabutkan air atau sistem irigasi tetes hingga tanah basah.

7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
1) Ulat tanah (Agrotis ipsilon)
Gejala: memakan dan memotong ujung batang tanaman muda, sehingga pucuk dan tangkai terkulai. Pengendalian: mencari dan mengumpulkan ulat pada senja hari dan semprot dengan insektisida.
2) Thrips (Thrips tabacci)
Gejala: pucuk dan tunas-tunas samping berwarna keperak-perakan atau kekuning-kuningan seperti perunggu, terutama pada permukaan bawah daun.
Pengendalian: mengatur waktu tanam yang baik, memasang perangkap berupa lembar kertas kuning yang mengandung perekat, misalnya IATP buatan Taiwan.
3) Tungau merah (Tetranycus sp)
Gejala: daun yang terserang berwarna kuning kecoklat-coklatan, terpelintir,
menebal, dan bercak-bercak kuning sampai coklat.  Pengendalian: memotong
bagian tanaman yang terserang berat dan dibakar dan penyemprotan pestisida.
4) Penggerek daun (Liriomyza sp)
Gejala: daun menggulung seperti terowongan kecil, berwarna putih keabu-abuan yang mengelilingi permukaan daun.  Pengendalian: memotong daun yang terserang, penggiliran tanaman, dengan aplikasi insektisida.
7.2. Penyakit
1) Karat/Rust
Penyebab: jamur  Puccinia sp. karat hitam disebakan oleh cendawan  P chrysantemi,  karat putih disebabkan oleh  P horiana P.Henn. Gejala: pada sisi bawah daun terdapat bintil-bintil coklat/hitam dan  terjadi lekukan-lekukan mendalam yang berwarna pucat pada permukaan daun bagian atas. Bila serangan hebat meyebabkan terhambatnya pertumbuhan bunga.
 Pengendalian: menanam bibit yang tahan hama dan penyakit, perompesan daun yang sakit,
memperlebar jarak tanam dan penyemprotan  insektisida.
2) Tepung oidium
Penyebab: jamur Oidium chrysatheemi. Gejala: permukaan daun tertutup dengan lapisan tepung putih. Pada serangan hebat daun pucat dan mengering.
Pengendalian: memotong/memangkas daun tanaman yang sakit dan penyemprotan fungisida.
3) Virus kerdil dan mozaik
Penyebab: virus kerdil krisan, Chrysanhenumum stunt Virus dan Virus Mozaoik Lunak Krisan (Chrysanthemum Mild Mosaic Virus). Gejala: tanaman tumbuhnya kerdil, tidak membentuk tunas samping, berbunga lebih awal daripada tanaman sehat, warna bunganya menjadi pucat. Penyakit kerdil ditularkan oleh alat-alat pertanian yang tercemar penyakit dan pekerja kebun. Virus mosaik menyebabkan daun belang hijau dan kuning, kadang-kadang bergaris-garis.  Pengendalian: menggunakan bibit bebas virus, mencabut tanaman yang sakit, menggunakan alat-alat pertanian yang bersih dan penyemprotan insektisida untuk pengendalian vektor virus.

8. PANEN
8.1. Ciri dan Umur Panen
Penentuan stadium panen adalah ketika bunga telah setengah mekar atau 3-4 hari sebelum mekar penuh. Tipe spray 75-80% dari seluruh tanaman. Umur tanaman siap panen yaitu setelah 3-4 bulan setelah tanam.
8.2. Cara Panen
Panen sebaiknya dilakukan pagi hari, saat suhu udara tidak terlalu tinggi dan saat bunga krisan berturgor optimum. Pemanenan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu dipotong tangkainya dan dicabut seluruh tanaman. Tata cara panen bunga krisan:
tentukan tanaman siap panen, potong tangkai bunga dengan gunting steril sepanjang 60-80 cm dengan menyisakan tunggul batang setinggi 20-30 cm dari permukaan tanah.
8.3. Prakiraan Produksi
Perkiraan hasil bunga krisan pada jarak 10 x 10 cm seluas 1 ha yaitu 800.000 tanaman.

9. PASCAPANEN
9.1. Pengumpulan
Kumpulkan bunga hasil panen, lalu ikat tangkai bunga berisi sekitar 50-1000 tangkai simpan pada rak-rak.
9.2. Penyortiran dan Penggolongan
Pisahkan tangkai bunga berdasarkan tipe bunga, warna dan varietasnya. Lalu bersihkan dari daun-daun kering atau terserang hama. Buang daun-daun tua pada pangkal tangkai.
Kriteria utama bunga potong meliputi penampilan yang baik, menarik, sehat dan bebas hama dan penyakit. Kriteria ini dibedakan menjadi 3 kelas yaitu:
a) Kelas I untuk konsumen di hotel dan florist besar, yaitu panjang tangkai bunga lebih dari 70 cm, diameter pangkal tangkai bunga lebih 5 mm.
b) Kelas II dan III untuk konsumen rumah tangga, florits menengah dan dekorasi massal yaitu panjang tangkai bunga kurang dari 70 cm dan diameter pangkal tangkai bunga kurang dari 5 mm.
9.3. Pengemasan dan Pengangkutan
Tentukan alat angkutan yang cocok dengan jarak tempuh ke tempat pemasaran dan susunlah kemasan berisi bunga krisan secara teratur, rapi dan tidak longgar, dalam bak atau box alat angkut.
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
10.1.Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya tanaman krisan seluas 0,5 ha dengan jarak tanam 10 x 10 cm. Analisis dilakukan pada tahun 1999 di daerah Bandung.
1) Biaya produksi
1. Sewa lahan 1 tahun Rp.     1.500.000,-
2. Bibit : 500.000 batang @ Rp. 50,- Rp.   25.000.000,-
3. Pupuk dan kapur
- Pupuk kandang: 15.000 kg @ Rp. 150,- Rp.     2.250.000,-
- Urea: 4.150 kg @ Rp. 1.500,- Rp.     6.225.000,-
- ZA: 4.600 kg @ Rp. 1.250,- Rp.     5.750.000,-
- SP-36: 525 kg @ Rp. 2.000,- Rp.     1.050.000,-
- KCl: 125 kg @ Rp. 1.650,- Rp.        206.250,-
- KNO3: 2.375 kg @ Rp. 4.000,- Rp.     9.500.000,-
- Kapur pertanian: 2000 kg @ Rp.200,- Rp.        400.000,-
4. Pestisida Rp.     1.500.000,-
5. Biaya tenaga kerja
- Penyiapan lahan 50 HKP @ Rp. 10.000,- Rp.        500.000,-
- Pemupukan  10 HKP + 20 HKW Rp.        250.000,-
- Penanaman 5 HKP + 50 HKW Rp.        425.000,-
- Pemeliharaan 5 HKP + 100 HKW Rp.        800.000,-
6. Biaya lain-lain (pajak, iuran, alat) Rp.        500.000,-
1) Jumlah biaya produksi Rp.   55.856.250,-
2) Pendapatan 400.000 tanaman @ Rp. 225,- Rp.   90.000.000,-
3) Keuntungan Rp.   34.143.750,-
4) Parameter kelayakan usaha
1. Rasio Output/Input =1,611
Keterangan: HKP Hari Kerja Pria, HKW Hari Kerja Wanita
10.2.Gambaran Peluang Agribisnis
Tanaman hias krisan merupakan bunga potong yang penting di dunia. Prospek budidaya krisan sebagai bunga potong sangat cerah, karena pasar potensial yang dapat berdaya serap tinggi sudah ada. Diantara pasar potensial tersebut adalah Jerman, Inggris, Swiss, Italia, Austria, America Serikat, Swedia dsb. Saat ini krisan termasuk bunga yang paling populer di Indonesia karena memiliki keunggulan yaitu bunganya kaya warna dan tahan lama, bunga krisan pot bahkan dapat tetap segar selama 10 hari. Peluang untuk mengembangkan budidaya tanaman krisan, guna memenuhi kebutuhan baik dalam maupun luar negeri agaknya tetap terbuka. Seiring dengan permintaan bunga potong krisan yang semakin meningkat maka  peluang agribisnis perlu terus dikembangkan.
11. STANDAR PRODUKSI
11.1.Ruang Lingkup
Standar meliputi klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan dan pengemasan.
11.2.Deskripsi

11.3.Klasifikasi dan Standar Mutu
Mutu dan pengepakan bunga untuk ekspor ke pasaran Internasional sangat
ditentukan oleh negara pengimpor. Untuk Jepang standar yang berlaku adalah
sebagai berikut:
a) Varietas adalah Kiku berwarna putih atau kuning yang dipanen saat bunga belum mekar penuh, panjang tangkai 70 cm, lurus dan tunggal. Duapertiga daun masih
lengkap, utuh serta berukuran seragam dan bebas hama penyakit.
b) Satu ikatan terdiri dari 20 tangkai bunga dan dibungkus dengan pembungkus dari kertas khusus  Sleeves. Kuntum tidak tertutup seludang, pangkal bunga diberi
kapas basah.
c) Pengepakan dilakukan dalam kotak kardus dengan kapasitas 10 ikatan.
d) Pengangkutan dilakukan dengan alat angkut bersuhu udara 7-8 derajat C dengan kelembaban udara 60-65%.
11.4.Pengambilan Contoh
Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan terkecil dalam lot dan contoh dengan rincian sebagai berikut:
a) Contoh yang diambil 1, untuk jumlah kemasan terkecil dalam lot = 1–3.
b) Contoh yang diambil 3, untuk jumlah kemasan terkecil dalam lot = 4–25.
c) Contoh yang diambil 6, untuk jumlah kemasan terkecil dalam lot = 26–50.
d) Contoh yang diambil 8, untuk jumlah kemasan terkecil dalam lot = 51–100.
e) Contoh yang diambil 10, untuk jumlah kemasan terkecil dalam lot = 101–150.
f) Contoh yang diambil 12, untuk jumlah kemasan terkecil dalam lot = 151–200.
g) Contoh yang diambil 15, untuk jumlah kemasan terkecil dalam lot = 201–lebih.
Sedangkan untuk petugas pengambil contoh adalah orang yang telah berpengalaman/dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dalam suatu badan hukum.
11.5.Pengemasan
1) Cara pengemasan
Pangkal tangkai bunga krisan potongan dimasukan ke dalam tube berisi cairan pengawet/dibungkus dengan kapas kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik berisi cairan pengawet lalu dikemas dalam kotak karton/kemasan lain yang sesuai.
2) Pemberian merek
Pada bagian luar kemasan diberi tulisan:
1. Nama barang/varietas krisan.
2. Jenis mutu.
3. Nama atau kode produsen/eksportir.
4. Jumlah isi.
5. Negara tujuan.
6. Hasil Indonesia.

12. DAFTAR PUSTAKA
1) H Rahmat Rukmana , Ir.1997. Krisan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
2) Trubus no. 338. 1998. Kebun bunga Potong Ciputri.
3) Dewi Sartika. 1998. Krisan Baru Produk Indonesia. Trubus no. 342.
4) Lukito AM. 1998. Rekayasa Pembungaan Krisan dan Bunga Lain. Trubus no. 348.
Jakarta, Februari 2000

SUMBER : 
Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS

SIRUP

LATAR BELAKANG

Sirup adalah salah satu bentuk sediaan cair yang dalam dunia farmasi yang dikenal luas oleh masyarakat. Saat ini, banyak sediaan sirup yang beredar di pasaran dari berbagai macam merk, baik yang generic maupun yang paten.Biasanya, orang-orang mengunakan sediaan sirup karena disamping mudah penggunaannya, sirup juga mempunyai rasa yang manis dan aroma yang harum serta warna yang menarik sehingga disukai oleh berbagai kalangan, terutama anak-anak dan orang yang susah menelan obat dalam bentuk sediaan oral lainnya.
Sirup didefinisikan sebagai sediaan cair yang mengandung sakarosa. Kecuali dinyatakan lain, kadar sakarosa tidak kurang dari 64% dan tidak lebiih dari 66%. Secara umum, sirup dibagi menjadi 2 macam yaitu Non Medicated Syrup/Flavored Vehicle Syrup (Seperti cherry syrup, cocoa syrup, orange syrup) dan Medicated Syrup/Sirup Obat (Seperti sirup piperazina sitrat, sirup isoniazid).
Non Medicated Syrup adalah sediaan syrup yang tidak mengandung bahan obat, melainkan hanya mengandung gula, perasa, pengawet dan perwarna sedangkan Sirup Obat mengandung bahan obat/Zat berkhasiat.



I. Definisi

  1. Menurut Farmakope Indonesia III, Sirup adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. Kadar sakarosa (C12 H22 O11) tidak kurang dari 64% dan tidak lebih dari 66%.
  2. Sirup adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain dalam kadar tinggi (Anonim, 1995). Secara umum sirup merupakan larutan pekat dari gula yang ditambah obat atau zat pewangi dan merupakan larutan jernih berasa manis. Sirup adalah sediaan cair kental yang minimal mengandung 50% sakarosa (Ansel et al., 2005).
  3. Dalam perkembangannya, banyak sekali pengertian mengenai sirup. Sirup adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa (Anonim, 1979). Sirup adalah sediaan cairan kental untuk pemakaian dalam, yang minimal mengandung 90% sakarosa (Voigt, 1984).

II. Komponen Sirup
1. Pemanis
Pemanis berungsi untuk memperbaiki rasa dari sediaan. Dilihat dari kalori yang dihasilkan dibagi menjadi pemanis berkalori tinggi dan pemanis berkalori rendah. Adapun pemanis berkalori tinggi misalnya sorbitol, sakarin dan sukrosa sdangkan yang berkalori rendah seperti laktosa.

2. Pengawet antimikroba
Digunakan untuk menjaga kestabilan obat dalam penyimpanan agar dapat bertahan lebih lama dan tidak ditumbuhi oleh mikroba atau jamur.

3. Perasa dan Pengaroma
Hampir semua sirup disedapkan dengan pemberi rasa buatan atau bahan-bahan yang berasal dari alam untuk membuat sirup mempunyai rasa yang enak. Karena sirup adalah sediaan cair, pemberi rasa ini harus mempunyai kelarutan dalam air yang cukup. Pengaroma ditambahkan ke dalam sirup untuk memberikan aroma yang enak dan wangi. Pemberian pengaroma ini harus sesuai dengan rasa sediaan sirup, misalkan sirup dengan rasa jeruk diberi aroma citrus.

4. Pewarna
Pewarna yang digunakan umumnya larut dalam air dan tidak bereaksi dengan komponen lain dalam sirup dan warnanya stabil dalam kisaran pH selama penyimpanan. Penampilan keseluruhan dari sediaan cair terutama tergantung pada warna dan kejernihan. Pemilihan warna biasanya dibuat konsisen dengan rasa
5. Juga banyak sediaan sirup, terutama yang dibuat dalam perdagangan mengandung pelarut-pelarut khusus, pembantu kelarutan, pengental dan stabilisator.

III. Sifat Fisika Kimia sirup

A. Viskositas
Viskositas atau kekentalan adalah suatu sifat cairan yang berhubungan erat dengan hambatan untuk mengalir. Kekentalan didefinisikan sebagai gaya yang diperlukan untuk menggerakkan secara berkesinambungan suatu permukaan datar melewati permukaan datar lainnya dalam kondisi mapan tertentu bila ruang diantara permukaan tersebut diisi dengan cairan yang akan ditentukan kekentalannya. Untuk menentukan kekentalan, suhu zat uji yang diukur harus dikendalikan dengan tepat, karena perubahan suhu yang kecil dapat menyebabkan perubahan kekentalan yang berarti untuk pengukuran sediaan farmasi. Suhu dipertahankan dalam batas idak lebi dari 0,1 C.

B. Uji mudah tidaknya dituang
Uji mudah tidaknya dituang adalah salah satu parameter kualitas sirup. Uji ini berkaitan erat dengan viskositas. Viskositas yang rendah menjadikan cairan akan smakin mudah dituang dan sebaliknya. Sifat fiik ini digunakan untuk melihat stabilitas sediaan cair selama penyimpanan.Besar kecilnya kadar suspending agent berpengaruh terhadap kemudahan sirup untuk dituang. Kadar zat penstabil yang terlalu besar dapat menyebabkan sirup kental dan sukar dituang.

C. Uji Intensitas Warna
Uji intensitas warna dilakukan dengan melakukan pengamatan pada warna sirup mulai minggu 0-4. Warna yang terjadi selama penyimpanan dibandingkan dengan warna pada minggu 0. Uji ini bertujuan untuk mengetahui perubahan warna sediaan cair yang disimpan Selama waktu tertentu.

IV. Pembuatan Sirup

Kecuali dinyatakan lain, Sirup dibuat dengan cara sebagai berikut :
Buat cairan untuk sirup, panaskan, tambahkan gula, jika perlu didihkan hingga larut. Tambahkan air mendidih secukupnya hingga diperoleh bobot yang dikehendaki, buang busa yang terjadi, serkai.
Pada pembuatan sirup dari simplisia yang mengandung glukosida antrakinon, di tambahkan natrium karbonat sejumlah 10% bobot simplisia.pada pembuatan sirop simplisia untuk persediaan di tambahkan Nipagin 0,25% b/v atau pengawet yang cocok.sirop disimpan dalam wadah tertutup rapar,dan di tempat yang sejuk.


  • Metode Kerja
1. Melarutkan bahan- bahan dengan bantuan pemanasan

    Sirup yang dibuat dengan cara ini apabila :
a. Dibutuhkan pembuatan sirup secepat mungkin
b. Komponen sirup tidak rusak atau menguap oleh pemanasan

Pada cara ini umumnya gula ditambahkan ke air yang dimurnikan dan dipanaskan sampai larut. Contoh : sirup akasia, sirup cokelat

2. Melarutkan bahan-bahan dengan pengadukan tanpa pemanasan
   
    Metode ini dilakukan untuk menghindari panas yang merangsang inverse sukrosa. 

Prosesnya membutuhkan waktu yang lebih lama tetapi mempunyai kestabilan yang maksimal. Bila bahan padat akan ditambahkan ke sirup, yang paling baik adalah dengan melarutkannya dalam sejumlah air murni dan kemudian larutan tersebut digabungkan ke dalam sirup. Contoh : sirup ferro sulfat

3. Penambahan sukrosa pada cairan obat yang dibuat atau pada cairan yang diberi rasa (Colatura)

Ada kalanya cairan obat seperti tingtur atau ekstrak cair digunakan sebagai sumber obat dalam pembuatan sirup. Banyak tingtur dan ekstrak seperti itu mengandung bahan-bahan yang larut dalam alcohol dan dibuat dengan pembawa beralkohol atau hidroalkohol. Jika komponen yang larut dalam alcohol ibutuhkan sebagai bahan obat dalam pembuatan sirup, beberapa cara kimia umum dapat dilakukan agar bahan-bahan tersebut larut dalam air, campuran dibiarkan sampai zat-zat yang tidak larut dalam air terpisah sempurna dan menyaringnya dari campuran. Filtratnya adalah cairan obat yang kepadanya kemudian ditambahkan sukrosa dalam sediaan sirup. Pada kondisi lain, apabila tingtur dan ekstrak kental dapat bercampur dengan sediaan berair, ini dapat ditambahkan langsung ke sirup biasa atau sirup pemberi rasa sebagai obat. Contoh : Sirup sena

4. Maserasi dan Perkolasi

a. Adalah cara penarikan sari dari simplisia dengan cara merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari pada suhu biasa yaitu pada suhunya 15-25 0C. Contoh : Sirupus Rhei, Althaeae sirup
b. Perkolasi ialah suatu cara penarikan, memakai alat yang disebut perkolator, yang simplisianya terendam dalam cairan penyari dimana zat-zatnya terlarut dan larutan tersebut akan menetes secara beraturan keluar sampai memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan.Contoh :Sirupus cinnamomi, sirup aurantii corticis


  • Persyaratan Mutu Dalam Pengerjaan Sirup

  1. Pada pembuatan sirup dari simplisia yang mengandung glikosida antrakinon ditambahkan Na2CO3 sejumlah 10% bobot simplisia.
  2. Kecuali dinyatakan lain, pada pembuatan sirup simplisia untuk persediaan ditambahkan metil paraben 0,25 % b/v atau pengawet lain yang cocok.
  3. Kadar gula dalam sirup pada suhu kamar maksimum 66 % sakarosa, bila lebih tinggi akan terjadi pengkristalan, tetapi bila lebih rendah dari 62 % sirup akan membusuk.
  4. BJ sirup kira-kira 1,3
  5. Pada penyimpanan dapat terjadi inversi dari sakarosa ( pecah menjadi glukosa dan fruktosa ) dan bila sirup yang bereaksi asam inversi dapat terjadi lebih cepat.
  6. Pemanasan sebaiknya dihindari karena pemanasan akan menyebabkan terjadinya gula invert.
  7. Gula invert adalah gula yang terjadi karena penguraian sakarosa yang memutar bidang polarisasi kekiri.
  8. Gula invert tidak dikehendaki dalam sirup karena lebih encer sehingga mudah berjamur dan berwarna tua ( terbentuk karamel ), tetapi mencegah terjadinya oksidasi dari bahan obat.
  9. Pada sirup yang mengandung sakarosa 62 % atau lebih, sirup tidak dapat ditumbuhi jamur, meskipun jamur tidak mati.
  10. Bila kadar sakarosa turun karena inversi, maka jamur dapat tumbuh. Bila dalam resep, sirup diencerkan dengan air dapat pula ditumbuhi jamur.
  11. Untuk mencegah sirup tidak menjadi busuk, dapat ditambahkan bahan pengawet misalnya nipagin.
  12. Kadang-kadang gula invert dikehendaki adanya misalnya dalam pembuatan sirupus Iodeti ferrosi.Hal ini disebabkan karena sirup merupakan media yang mereduksi, mencegah bentuk ferro menjadi bentuk ferri. Gula invert disini dipercepat pembuatannya dengan memanaskan larutan gula dengan asam sitrat.
  13. Bila cairan hasil sarian mengandung zat yang mudah menguap maka sakarosa dilarutkan dengan pemanasan lemah dan dalam botol yang tertutup, seperti pada pembuatan Thymi sirupus dan Thymi compositus sirupus, aurantii corticis sirupus. Untuk cinnamomi sirupus sakarosa dilarutkan tanpa pemanasan.
  14. Maksud menyerkai pada sirup adalah untuk memperoleh sirup yang jernih.

  • Penjernihan Sirup
Ada beberapa cara menjernihkan sirup :

  1. Menambahkan kocokan zat putih telur segar pada sirup . Didihkan sambil diaduk, zat putih telur akan menggumpal karena panas.
  2. Menambahkan bubur kertas saring lalu didihkan dan saring kotoran sirup akan melekat ke kertas saring.

V. Kestabilan Sirup dalam Penyimpan

A. Cara Memasukkan Sirup Dalam Botol

Cara memasukkan sirup ke dalam botol penting untuk kestabilan sirup dalam penyimpanan, supaya awet (tidak berjamur ) sebaiknya sirup disimpan dengan cara :

  1. Sirup yang sudah dingin disimpan dalam wadah yang kering. Tetapi pada pendinginan ada kemungkinan terjadinya cemaran sehingga terjadi juga penjamuran.
  2. Mengisikan sirup panas-panas kedalam botol panas ( karena sterilisasi ) sampai penuh sekali sehingga ketika disumbat dengan gabus terjadi sterilisasi sebagian gabusnya, lalu sumbat gabus dicelup dalam lelehan parafin solidum yang menyebabkan sirup terlindung dari pengotoran udara luar.
  3. Sterilisasi sirup, disini harus diperhitungkan pemanasan 30 menit apakah tidak berakibat terjadinya gula invert.
Maka untuk kestabilan sirup, FI III juga menuliskan tentang panambahan metil paraben 0,25% atau pengawet lain yang cocok.

Dari ketiga cara memasukkan sirup ke dalam botol ini yang terbaik adalah cara ketiga.

Dalam ilmu farmasi sirup banyak digunakan karena dapat berfungsi sebagai :

  1. Obat, misalnya : chlorfeniramini maleatis sirupus.
  2. Corigensia saporis, misalnya : sirupus simplex
  3. Corigensia odoris, misalnya : sirupus aurantii
  4. Corigensia coloris, misalnya : sirupus Rhoedos, sirupus rubi idaei
  5. Pengawet, misalnya sediaan dengan bahan pembawa sirup karena konsentrasi gula yang tinggi mencegah pertumbuhan bakteri.
B. Penyimpanan :
Dalam wadah tertutup rapat dan di tempat sejuk.

C. Penetapan kadar sakarosa

  1. Timbang seksama + 25 gram sirup dalam labu terukur 100 ml, tambahkan 50 ml air dan sedikit larutan Aluminium hidroksida p. Tambahkan larutan timbal ( II ) sub asetat p tetes demi tetes hingga tetes terakhir tidak menimbulkan kekeruhan.
  2. Tambahkan air secukupnya hingga 100,0 ml saring, buang 10 ml filtrat pertama. Masukkan + 45,0 ml filtrat kedalam labu tentukur 50 ml, tambahkan campuran 79 bagian volume asam klorida p dan 21 bagian vol. Air secukupnya hingga 50,0 ml. Panaskan labu dalam tangas air pada suhu antara 68 o dan 70 oC selama 10 menit, dinginkan dengan cepat sehingga suhu lebih kurang 20 derajat celcius.
  3. Jika perlu hilangkan warna dengan menggunakan tidak lebih dari 100 mg arang penyerap.
  4. Ukur rotasi optik larutan yang belum di inversi dan sesudah inversi menggunakan tabung 22,0 cm pada suhu pengukur yang sama antara 10 o dan 25 o C. Hitung kadar dalam %, C12H22O11 dengan rumus :
C = 300 x ( 1 - 2 )
( 144 - 0,5 t )


C = Kadar sacharosa dalam %
1 = rotasi optik larutan yang belum di inversi
2 = rotasi optik larutan yang sudah di inversi
t = suhu pengukuran

VI. Contoh-contoh Sediaan Sirup

A. Ferrosi Iodidi Sirupus

Cara pembuatan : 20 bagian ferrum pulveratum dicampur dengan 60 bagian air, tambahkan 41 bagian Iodium sedikit demi sedikit sambil digerus. Setelah warna coklat hilang maka larutan disaring, dimasukkan kedalam larutan ½ bagian acidum citricum dan 600 bagian sakarosa dalam 200 bagian air panas.

Untuk mencegah terjadinya oksidasi dari ferro Iodida maka ujung corong masuk kedalam larutan sakarosa. Sisa serbuk besi pada kertas saring dicuci dengan air sampai diperoleh 1000 bagian sirup.

Guna acidum citricum adalah untuk mempercepat inversi sakarosa, menjadi glukosa dan fruktosa yang merupakan reduktor kuat yang berguna untuk mencegah oksidasi ferro lodidum.

Ferro Iodidum selalu dibuat baru.

B. Sirupus Simplex = Sirup Gula

Cara pembuatan : larutkan 65 bagian sakarosa dalam larutan metil paraben 0,25 % secukupnya hingga diperoleh 100 bagian sirup
Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk

C. Auranti Sirupi = Sirup Jeruk Manis

Cara pembuatan : campur 10 bagian kulit buah jeruk manis yang telah dipotong kecil-kecil dengan 20 bagian larutan metil paraben 0,25%. Biarkan dalam tempat tertutup selama 12 jam. Pindahkan ke dalam perkolator, perkolasi dengan larutan metil paraben 0,25% secukupnya hingga diperoleh 37 bagian perkolat. Tambahkan 63 bagian gula pada suhu kamar atau pada pemanasan perlahan-lahan dalam tempat tertutup hingga diperoleh 100 bagian sirup
Pemerian : cairan kental, jernih, warna coklat, bau khas aromatik.

D. Sirupus Thymi = Sirup Thymi
Cara pembuatan : campurlah 15 bagian herba timi dengan air sesukupnya dan diamkan 12 jam dalam bejana tertutup. Masukan dalam perkolatordan sari dengan air, perkolat dipanasi sampai 90 0C dan diserkai hingga diperoleh 36 bagian hasil perkolat. Masukan dalam bejana tertutup dan tambahkan 64 bagian gula panaskan dengan pemanasan lemah hingga diperoleh 100 bagian sirup.
Pemerian : sirup warna coklat, bau dan rasa seperti thymi.

Sirup-sirup yang tercantum dalam FI ed III
1. Chlorpheniramini maleatis sirupus
2. Cyproheptadini hydrochloridi sirupus
3. Dextrometorphani hydrobromidi sirupus
4. Piperazini citratis sirupus
5. Prometazini hydrochloridi sirupus
6. Methidilazini hydrochloridi sirupus
7. Sirupus simplex 

Dalam perdagangan dikenal “dry syrup” yaitu syrup berbentuk kering yang kalau akan dipakai ditambahkan sejumlah pelarut tertentu atau aqua destilata, biasanya berisi zat yang tidak stabil dalam suasana berair.

VII. Keuntungan Dan Kerugian sediaan Sirup

A. Keuntungan
1. Merupakan campuran yang homogeny
2. Dosis dapat diubah-ubah dalam pembuatan
3. Oba lebih mudah diabsorbsi
4. Mempunyai rasa manis
5. Mudah diberi bau-bauan dan warna sehingga menimbulkan daya tarik untuk anak
6. Membantu paien yang mendapat kesulitan dalam menelan oba

B. Kerugian
1. Ada obat yang tidak stabil dalam larutan
2. Volume dan bentuk larutan lebih besar
3. Ada yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam sirup


KESIMPULAN:
Dalam pembuatan sirup harus diperhatikan berbagai aspek yang dapat mempengaruhi hasil akhir dari sediaan yang dihasilkan. Berbagai aspek itu antara lain pemahaman dasar mengenai sediaan sirup, komponen dalam sirup, sifat kimia fisika, dan prinsip-prinsip dalam pengerjaan mulai dari pemilihan metode kerja yang sesuai dengan bahan yang digunakan sampai pada uji mutu dan kestabilan obat dalam penyimpanan. 

SUMBER:
Ansel,H.C., 1989. “Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi”, Edisi Keempat, Terjemahan oleh Farida Ibrahim, UI Press; Jakarta
DepKes RI, 1979. “Farmakope Indonesia”, Edisi Ketiga, Departemen Kesehatan Republik Indonesia ; Jakarta
Filzahazny.wordpress.com/2009/03/18/sirup
http://etd.epints.ums.ac.id/12664/2/BAB_I.Pendahuluan/ ; diakses Rabu, 1 Juni 2011
http://global-4-lvs-usa.operamini.net/ ; diakses Rabu, 1 Juni 2011
http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/ ; diakses Rabu, 1 Juni 2011
http://rmp.ums.ac.id/silabi/ ; diakses Rabu, 1 Juni 2011
Voight, R. 1991, “Buku Pembelajaran Teknologi Farmasi”, Terjemahan Soendari Noerono, Gadjah Mada University Press ; Yogyakarta

Referral Code Kredivo

 Kredivo adalah kartu kredit digital berupa aplikasi di smartphone yang memberikan kamu kemudahan untuk beli sekarang dan bayar nanti dalam...